jogjabanget.id

Pusat Oleh-Oleh Baru di Jogja, Toko 1915 Siapkan Produk UMKM Warga Muhammadiyah

Toko Oleh-Oleh 1915 resmi soft launching di Gedung Suara Muhammadiyah, Jogja. Toko ini menghadirkan produk UMKM warga Persyarikatan dan masyarakat Yogyakarta. (dok. jogjabanget)

Toko Oleh-Oleh 1915 resmi soft launching di Gedung Suara Muhammadiyah, Jogja. Toko ini menghadirkan produk UMKM warga Persyarikatan dan masyarakat Yogyakarta. (dok. jogjabanget)

Author
Redaksi
14 Agustus 20264 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Warga dan wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Yogyakarta kini memiliki pilihan baru. Suara Muhammadiyah resmi memperkenalkan Toko Oleh-Oleh 1915 melalui soft launching yang digelar di Gedung Suara Muhammadiyah, Selasa (11/8/2026).

Toko tersebut hadir sebagai bagian dari pengembangan usaha sekaligus upaya memperkuat ekosistem UMKM warga Persyarikatan Muhammadiyah dan masyarakat Yogyakarta.

Wakil Ketua Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LPEK PPM) bidang oleh-oleh UMKM, H. Tetra Budiarto, menyambut kehadiran Toko Oleh-Oleh 1915.

Menurutnya, lokasi toko yang strategis menjadi salah satu keunggulan karena berada tidak jauh dari kawasan pusat Kota Yogyakarta dan dekat dengan area parkir Ngabean.

“Besar harapan kami dengan tempat yang strategis. Tadi saya sudah coba masuk, luar biasa, disulap menjadi sebuah tempat oleh-oleh yang nyaman, komplit,” ujar Tetra.

Ia berharap keberadaan toko tersebut dapat memudahkan wisatawan, khususnya warga Muhammadiyah dari berbagai daerah, ketika mencari oleh-oleh khas Yogyakarta.

“Tidak lagi belanja itu bingung mau ke mana, tetapi bisa ada alternatif yang tidak jauh dari 0 Km, di dekat parkir Ngabean dalam memenuhi kebutuhan oleh-oleh dari wisatawan,” katanya.

Siapkan Ruang untuk Produk UMKM Warga Muhammadiyah

Tetra juga berharap ke depan tersedia rak khusus untuk menampung produk-produk UMKM warga Persyarikatan dari berbagai daerah.

Ia mengatakan, LPEK PPM siap bersinergi dengan Toko Oleh-Oleh 1915 melalui jaringan wisata Muhammadiyah yang di dalamnya terdapat pelaku usaha tour and travel serta biro perjalanan wisata.

“Kami dari LPK Lembaga Pariwisata Ekonomi Kreatif PPM juga siap untuk bekerja sama dengan Toko Oleh-Oleh 1915. Bersama kami ada juga jaringan wisata Muhammadiyah,” tuturnya.

Menurutnya, sinergi tersebut diharapkan mampu memperkenalkan toko kepada wisatawan sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk UMKM.

Toko 1915 Muh.jpg

Mengapa Namanya 1915?

Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media, Deni Asy'ari, menjelaskan bahwa angka 1915 bukan sekadar nama. Angka tersebut merujuk pada tahun kelahiran majalah Suara Muhammadiyah.

“1915 ini adalah tahun kelahiran majalah Suara Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah ini lahir tanggal 13 Agustus 1915. Berarti kalau tahun ini usianya sudah 111 tahun atau lebih dari satu abad,” jelas Deni.

Ia mengatakan, nama tersebut sengaja dibawa ke sektor usaha oleh-oleh sebagai upaya mewariskan identitas dan sejarah Suara Muhammadiyah dalam bentuk yang lebih luas.

“Kalau 1915 tahun yang silam, itu Muhammadiyah melakukan dakwah bil kalam melalui tulisan dalam bentuk majalah, maka pada tahun 2026 ini dengan tetap menggunakan nama 1915, kami ingin melakukan dakwah tidak hanya bil kalam, tapi juga dakwah dalam bentuk wisata,” ujarnya.

Hampir 100 Persen Produk UMKM

Deni menambahkan, Toko Oleh-Oleh 1915 tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis. Toko tersebut dirancang untuk memberikan ruang bagi produk UMKM warga Persyarikatan dan masyarakat Yogyakarta.

“Yang isinya hampir 100 persen itu produk UMKM warga Persyarikatan dan warga yang ada di Yogyakarta,” katanya.

Ia menegaskan, keberpihakan terhadap UMKM menjadi pembeda dalam pengembangan bisnis Suara Muhammadiyah.

“Kita tetap ingin berbisnis, berusaha tidak hanya sekadar ingin mencari profit, tidak hanya ingin sekadar mencari benefit, tetapi tujuan Muhammadiyah dan yang membedakan Muhammadiyah dengan pebisnis-pebisnis yang lainnya adalah keadilan dan keberpihakan,” tegasnya.

Saat ini, terdapat sejumlah produk resmi Suara Muhammadiyah yang dipasarkan, di antaranya Bakpia Caya dan Rendang Datuk.

Deni berharap ke depan semakin banyak produk yang dapat dikembangkan dan masuk ke Toko Oleh-Oleh 1915.

“Yang spesial dari produk yang hadir, produksi resmi dari Suara Muhammadiyah baru dua. Nanti Bapak Ibu yang punya keahlian nanti bisa diajari kami untuk mengembangkan produk-produk yang lainnya,” ungkapnya.

Toko 1915 Suara Muh.jpg

Bidik Wisatawan yang Datang ke Yogyakarta

Deni melihat potensi pasar oleh-oleh di Yogyakarta cukup besar seiring tingginya kunjungan wisatawan. Karena itu, kehadiran Toko Oleh-Oleh 1915 diharapkan menjadi salah satu bagian dari ekosistem wisata sekaligus penguatan ekonomi.

Ia menyebut wisatawan yang datang ke Yogyakarta berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, termasuk warga Muhammadiyah.

“Kami ingin menghadirkan pusat oleh-oleh sebagai salah satu ikhtiar kita menjawab berbagai kebutuhan wisatawan, khususnya wisatawan warga Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang berkunjung ke Yogyakarta,” kata Deni.

Sementara itu, Tetra berharap Toko Oleh-Oleh 1915 dapat berkembang menjadi alternatif tempat belanja bagi wisatawan sekaligus menjadi wadah pemasaran produk warga Muhammadiyah.

“Semoga sukses, semoga berkah, semoga bermanfaat untuk keluarga besar Suara Muhammadiyah, untuk warga Persyarikatan, dan untuk masyarakat umum,” ujarnya.