jogjabanget.id

Den Baguse Ngarso Meninggal Dunia di Rumahnya Mantrijeron, Dunia Teater Yogyakarta Berduka

Seniman teater sekaligus pendiri Teater Gandrik, Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso, meninggal dunia di rumahnya di Mantrijeron, Yogyakarta. Keluarga mengungkap kronologi penemuan jenazah, sementara Butet Kartaredjasa dan Hanung Bramantyo mengenang sosoknya sebagai aktor dengan improvisasi luar biasa. (dok. Pemda DIY)

Seniman teater sekaligus pendiri Teater Gandrik, Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso, meninggal dunia di rumahnya di Mantrijeron, Yogyakarta. Keluarga mengungkap kronologi penemuan jenazah, sementara Butet Kartaredjasa dan Hanung Bramantyo mengenang sosoknya sebagai aktor dengan improvisasi luar biasa. (dok. Pemda DIY)

Author
Redaksi
22 September 20264 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Kabar duka menyelimuti dunia seni Yogyakarta. Seniman teater Susilo Nugroho, yang akrab dikenal sebagai Den Baguse Ngarso, ditemukan meninggal dunia di rumahnya di kawasan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Senin (21/9/2026).

Almarhum yang dikenal sebagai pendiri Teater Gandrik itu ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah keluarga curiga karena tidak kunjung bangun dan tidak beraktivitas seperti biasanya.

Kerabat almarhum, Hesti, menceritakan bahwa sekitar pukul 15.00 WIB dirinya dihubungi istri Susilo yang saat itu sedang berada di Solo. Sang istri meminta kondisi Susilo dicek karena telepon yang dilakukan tidak diangkat.

“Coba digugah. Tapi saya enggak berani,” ujar Hesti.

Hesti kemudian meminta anak Susilo yang berada di Jongke menghubungi ayahnya, tetapi panggilan tersebut juga tidak mendapat respons.

Ditemukan dalam kondisi tubuh kaku

Mendapat kabar tersebut, kerabat lain, Uri, datang ke rumah Susilo sekitar pukul 15.30 WIB. Saat masuk ke rumah, ia mendapati Susilo dalam posisi tidur menyamping menghadap ke barat.

“Kakinya saya pegang kok anyem (dingin) dan kaku. Tangannya juga begini. Waduh, aku udah feeling enggak enak, kukunya udah hitam. Aku langsung ke Pak Eko sebagai mantri di sini,” tuturnya.

Eko yang memiliki latar belakang tenaga kesehatan kemudian memeriksa kondisi Susilo dan menyampaikan bahwa tubuh almarhum sudah kaku serta tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Selanjutnya, jenazah dibawa ke RS Bethesda Yogyakarta untuk pemeriksaan dan proses penyucian.

Kerabat lainnya, Windrasanti, mengatakan proses selanjutnya dilakukan di rumah sakit.

“Saat ini akan dibawa ke RS Bethesda untuk disucikan,” katanya.

Sempat mengeluhkan nyeri dada dan bahu

Keluarga menyebut sehari sebelum ditemukan meninggal, Minggu (20/9), Susilo masih beraktivitas seperti biasa. Ia menerima tamu pada sore hari, membeli bakmi pada malam hari, lalu sekitar pukul 23.00 WIB mengeluhkan nyeri di bagian dada sebelum dipijat.

“Kemarin sore tuh masih ada, masih nemui tamu. Terus nanti malam katanya beli bakmi. Jam 11.00 itu sambat sininya sakit, dadanya. Terus dipijeti,” kata Hesti.

Kakak almarhum, Sukanti, juga mengungkapkan bahwa Susilo sempat mengeluhkan sakit di bagian bahu pada malam sebelum meninggal. Ketika disarankan ke rumah sakit, ia memilih tidak berobat.

“Katanya tadi malam ada tetangga yang dekat dengan dia, mengeluh bahunya sakit terus dipijit-pijit. Terus mau dibawa ke rumah sakit, dia bilang, ‘Enggak mau, enggak apa-apa kok.’ Cuma gitu saja,” ujarnya.

Menurut Sukanti, Susilo dikenal menjaga pola makan dan jarang mengeluhkan penyakit serius.

“Dia itu makan juga hati-hati. Selama ini kalau makan tidak pernah makan nasi. Nasinya diganti jagung. Makan juga enggak banyak, berat badan juga normal-normal saja. Tidak pernah mengeluh apa-apa,” katanya.

WhatsApp Image 2026-09-21 at 21.52.25.jpeg

Kehilangan besar bagi Teater Gandrik

Kepergian Den Baguse Ngarso juga dikonfirmasi oleh Butet Kartaredjasa, rekan sekaligus sahabatnya di Teater Gandrik.

“Ini saya sekarang sedang di Jakarta. Susilo meninggal di rumahnya. Belum diketahui penyakitnya apa karena sedang dibawa ke Rumah Sakit Bethesda untuk diperiksa,” ujar Butet melalui sambungan telepon.

Butet mengenang Susilo sebagai aktor yang memiliki kecerdasan improvisasi luar biasa di atas panggung.

“Susilo merupakan pendiri Teater Gandrik. Dia aktor yang sangat baik, yang bisa mengimbangi permainan dengan saya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa setiap kali berduet dengan Susilo, pertunjukan selalu terasa hidup karena improvisasi yang tak terduga.

“Kecerdasannya sampai sekarang masih saya kenang. Selalu memberikan kecerdasan-kecerdasan yang jenaka, dan serba tidak diduga,” ungkap Butet.

Hanung Bramantyo: Kehilangan yang sangat besar

Sutradara Hanung Bramantyo turut menyampaikan duka mendalam atas kepergian sosok yang sudah dikaguminya sejak duduk di bangku SMA.

“Sekali saya sedih. Saya baru dikabarin hari ini. Saya hanya bisa mengucapkan belasungkawa. Kehilangan yang sangat besar,” ujar Hanung.

Ia mengenang Den Baguse Ngarso sebagai sosok yang selalu ditunggu kehadirannya dalam setiap pertunjukan Teater Gandrik.

“Sejak saya masih SMA saya tidak pernah absen nonton pementasan Gandrik. Yang saya tunggu-tunggu ya Den Baguse Ngarso,” katanya.

Hanung bahkan mengaku sengaja mengajak Susilo bermain dalam film Ipah Ada Dalam Laut karena meyakini karakter yang dibawakannya akan memberikan warna tersendiri.

“Saya maksa Den Bagus harus main di situ. Dan ternyata memang benar, dia yang kasih sesuatu di situ,” tuturnya.

Jejak seni yang ditinggalkan

Bagi keluarga, Susilo merupakan sosok yang serius dalam menekuni dunia teater. Bakat seni, menurut Sukanti, memang telah mengalir dalam keluarga mereka. Sang kakek dikenal mahir menulis aksara Jawa dan menguasai macapatan, sementara ayah mereka juga menekuni seni macapatan.

Susilo meninggalkan seorang istri dan dua anak perempuan yang telah berkeluarga. Hingga Senin malam, keluarga masih membicarakan lokasi pemakaman sambil menunggu kondisi istri almarhum yang masih berduka.

“Belum tahu. Kayaknya istrinya masih belum stabil. Kita nunggu kalau sudah agak tenang dulu kita diajak bicara,” kata Sukanti.

Kepergian Den Baguse Ngarso menjadi kehilangan besar bagi dunia seni pertunjukan Yogyakarta. Sosoknya dikenang sebagai aktor Teater Gandrik yang piawai membangun improvisasi, menghadirkan humor cerdas, dan memberi warna khas dalam panggung teater maupun layar kaca. (Stf/ak)