100 Difabel Serentak Belajar Membatik di Yogyakarta, Paku Alam Dorong DIY Jadi Sentra Batik Difabel Indonesia

Sebanyak 100 penyandang disabilitas mengikuti pelatihan membatik serentak di Kepatihan Yogyakarta. Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X mendorong lahirnya sentra batik difabel sebagai ekosistem budaya, kreativitas, dan kemandirian ekonomi. (dok. Pemda DIY)
YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Sebanyak 100 penyandang disabilitas mengikuti pelatihan membatik secara serentak di Pendopo Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (16/9/2026). Kegiatan bertajuk "Membatik Bersama 100 Difabel: Wujudkan Difabel Mandiri dan Produktif, Menuju DIY Sentra Batik Difabel" ini menjadi upaya memperluas ruang berkarya bagi penyandang disabilitas sekaligus mendorong lahirnya ekosistem batik difabel di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Acara yang diselenggarakan melalui kolaborasi PT Mandiri Utama Finance, Difabel Zone, dan Pemerintah Daerah DIY ini dibuka oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X.
Dalam sambutannya, Sri Paduka menegaskan bahwa membatik bukan sekadar aktivitas seni, tetapi juga mengajarkan nilai ketekunan, ketelitian, dan keberanian dalam menciptakan karya.
“Dalam pengertian itulah kegiatan membatik bersama 100 difabel hari ini menjadi ikhtiar untuk membuka ruang, memperluas kesempatan, dan meneguhkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk tumbuh serta menghasilkan karya yang bernilai,” tutur Sri Paduka.
Batik Difabel sebagai Ekosistem Budaya dan Ekonomi
Paku Alam mengatakan tantangan saat ini adalah memastikan kekayaan budaya mampu menghadirkan ruang partisipasi yang setara bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Menurutnya, cita-cita menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu sentra batik difabel Indonesia bukan sekadar soal produksi batik, melainkan membangun ekosistem yang menghubungkan kebudayaan, kreativitas, pemberdayaan sosial, dan kemandirian ekonomi.
“Sebuah ekosistem tempat kebudayaan, kreativitas, pemberdayaan sosial, dan kemandirian ekonomi saling menguatkan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal lahirnya identitas batik difabel Yogyakarta yang memiliki karakter dan kekhasan tersendiri.
“Semoga dari 100 pembatik yang berkarya ini tumbuh lebih banyak ruang bagi talenta-talenta baru. Sebab, Yogyakarta yang istimewa adalah Yogyakarta yang memberikan kesempatan kepada tiap warganya untuk turut mencipta, berkarya, dan hidup mandiri dalam martabat,” pungkasnya.
100 Peserta dari Berbagai Ragam Disabilitas
Kepala Dinas Sosial DIY, Suyarno, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai program ini selaras dengan komitmen Pemda DIY dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif.
Seratus peserta yang terlibat berasal dari berbagai ragam disabilitas, di antaranya 23 penyandang disabilitas daksa, 7 penyandang cerebral palsy, 40 penyandang polio, 11 penyandang rungu wicara, 12 penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita), 4 penyandang disabilitas mental (tuna laras), 1 penyandang low vision, 1 penyandang autisme.
Selain mengikuti pelatihan, seluruh peserta akan menerima bantuan berupa peralatan membatik serta pendampingan selama satu bulan dari PT Mandiri Utama Finance.
Karya-karya yang dihasilkan juga direncanakan dipromosikan di Yogyakarta International Airport (YIA) dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2026.
“Karena bagi kami, pemberdayaan penyandang disabilitas bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membuka akses dan kesempatan agar mereka dapat berkarya dan berdaya secara berkelanjutan,” tegas Suyarno.
Diharapkan Buka Peluang Ekonomi Baru
Branch Manager PT Mandiri Utama Finance Yogyakarta, Felicinus Ari, mengatakan program tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan penyandang disabilitas melalui keterampilan membatik.
Menurutnya, bantuan yang diberikan diharapkan menjadi modal awal bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membuka peluang usaha.
“Kami berharap bantuan ini tidak hanya berhenti sebagai bantuan semata, tetapi dapat menjadi modal untuk meningkatkan produktivitas, kemandirian, dan kesejahteraan ekonomi bagi teman-teman,” ujar Ari.
Ia berharap pelatihan tersebut mampu melahirkan karya-karya batik yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.
“Semoga dari kegiatan membatik ini lahir karya-karya yang membanggakan, memiliki nilai ekonomi, serta mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan perekonomian keluarga,” tutupnya.
Dengan pelatihan yang melibatkan 100 penyandang disabilitas secara serentak ini, DIY kembali menegaskan komitmennya membangun ruang kreatif yang inklusif, di mana budaya menjadi jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan bagi seluruh warganya.

