jogjabanget.id

HB IX dan Filosofi Janma Limpad Seprapat Tamat, Sri Sultan: Bukan Karena Tahu Segalanya

Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai keteladanan HB IX masih relevan bagi generasi muda. Pesan itu disampaikan saat peluncuran buku Tahta, Darma, dan Karsa. (dok. Kawedanan Tandha Yekti)

Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai keteladanan HB IX masih relevan bagi generasi muda. Pesan itu disampaikan saat peluncuran buku Tahta, Darma, dan Karsa. (dok. Kawedanan Tandha Yekti)

Author
Redaksi
14 Agustus 20264 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dinilai masih relevan untuk menjadi pedoman generasi muda, khususnya dalam membangun karakter dan semangat pengabdian melalui Gerakan Pramuka.

Hal tersebut disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menghadiri peluncuran buku Tahta, Darma, dan Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Auditorium Sukarman Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026).

Dalam sambutannya, Sri Sultan mengingat kembali pesan HB IX ketika berpidato di hadapan Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang, pada 1971. Saat itu, HB IX menyampaikan pandangan mengenai kepanduan Indonesia yang dibangun atas semangat pengabdian tanpa pamrih.

Menurut Sri Sultan, pemikiran tersebut bukan sekadar pernyataan diplomatik. Ada karakter kepemimpinan yang tercermin di dalamnya.

“Dengan judul The Trend in Scouting, pernyataan itu bukan sekadar retorika diplomatik. Namun manifestasi dari watak seorang pemimpin yang oleh masyarakat Jawa disebut memiliki sifat Janma Limpad Seprapat Tamat,” ungkap Sri Sultan.

Buku Sri Sultan HB X.jpg

Makna Janma Limpad Seprapat Tamat

Sri Sultan menjelaskan, istilah Janma Limpad Seprapat Tamat menggambarkan sosok yang memiliki ketajaman dalam memahami persoalan.

Seorang pemimpin dengan watak tersebut tidak harus mengetahui seluruh persoalan secara detail untuk memahami arah pembicaraan atau permasalahan yang dihadapi.

“Bukan karena ia tahu segalanya, melainkan karena ketajaman batinnya mampu menangkap keseluruhan dari yang sebagian. Sifat itulah yang tampak dalam rekam jejak beliau (HB IX),” jelasnya.

Menurut Sri Sultan, kemampuan membaca situasi secara utuh sebelum mengambil keputusan menjadi salah satu warisan penting dari HB IX.

Nilai tersebut dinilai masih memiliki relevansi dengan Gerakan Pramuka saat ini. Kepekaan membaca situasi dapat membantu seseorang mengambil keputusan secara cepat dan tepat, tetapi tetap harus disertai pertimbangan yang matang.

“Kepekaan sejati selalu disertai kehati-hatian, disertai analisis yang jernih, disertai kesediaan untuk berhenti sejenak sebelum melangkah,” kata Sri Sultan.

Ia bahkan mengingatkan bahwa kecepatan tanpa kejernihan justru dapat berujung pada kesalahan.

“Inilah pelajaran kepemimpinan yang saya kira terlalu sering dilupakan zaman kita, bahwa kecepatan tanpa kejernihan adalah kecerobohan yang dipercepat,” imbuhnya.

Buku Jadi Jembatan Generasi Muda

Sri Sultan yang juga Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka DIY mengatakan buku Tahta, Darma, dan Karsa diharapkan menjadi jembatan bagi generasi yang tidak pernah bertemu langsung dengan HB IX.

Buku tersebut tidak hanya menceritakan kehidupan HB IX, tetapi berupaya menerjemahkan pemikiran dan keteladanannya agar dapat dipelajari generasi sekarang.

“Saya berharap, buku ini menjadi jangkar bagi anggota Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia. Bukan untuk mengagumi masa lalu, melainkan untuk menghidupkan nilainya di masa kini,” ujarnya.

Sri Sultan menegaskan, keteladanan akan kehilangan makna apabila hanya disimpan sebagai cerita sejarah.

“Sebab, keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan, sedangkan keteladanan yang dihayati akan menjadi peradaban,” katanya.

HB X soal buku HB IX.jpg

Pramuka Dinilai Penting Hadapi Krisis Nilai

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu'ti menyambut positif peluncuran buku tersebut.

Ia menilai generasi saat ini menghadapi tantangan berupa semakin melemahnya nilai-nilai kehidupan yang sebelumnya menjadi pegangan masyarakat.

“Ajaran-ajaran mulia dari para tokoh pendiri bangsa, tidak lagi tumbuh di kalangan anak-anak kita,” ungkap Abdul Mu'ti.

Karena itu, ia berharap buku tersebut dapat menjadi salah satu sarana untuk kembali menumbuhkan semangat kebangsaan, nasionalisme, dan kecintaan terhadap Tanah Air melalui Gerakan Pramuka.

Abdul Mu'ti juga menyampaikan bahwa Kemendikdasmen telah mengambil kebijakan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di seluruh jenjang pendidikan.

Menurutnya, nilai-nilai dalam Dasa Darma Pramuka yang berlandaskan Pancasila penting ditanamkan kepada generasi muda.

“Kehadiran buku ini menjadi sangat penting untuk mengingatkan kita kembali akan semangat untuk membangun integrasi bangsa,” ujarnya.

Ia menilai peluncuran buku tersebut bertepatan dengan momentum Hari Pramuka sehingga memiliki makna tersendiri dalam upaya memperkuat persatuan dan kedaulatan bangsa.

Buku Tahta, Darma, dan Karsa ditulis Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati. Buku tersebut bukan buku biografi, melainkan membahas sejarah pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX selama dua dekade, yakni periode 1941-1961, dalam perjuangan Gerakan Pramuka Indonesia.

Peluncuran buku dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Kepala Perpustakaan Nasional RI E. Amunisinya Aziz, Penasehat Khusus Presiden Bidang Keamanan, Ketertiban Masyarakat, dan Reformasi Kepolisian Letjen Pol (Purn) Ahmad Dofiri, serta Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Nasional Komjen Pol (Purn) Budi Waseso.

Turut hadir Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY GKR Hayu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas GKR Mangkubumi, dan Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas Acep Somantri.