YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan rasa terima kasih kepada pamong kelurahan dan masyarakat atas kirab budaya Mangayubagya Yuswa Dalem ke-80 yang digelar Kamis (2/4/2026).

Dalam suasana santai, Sri Sultan sempat bergurau bahwa di usianya kini ia tak lagi kuat berdiri lama. “Berdiri 3 jam lebih ya ra kuat,” ujarnya.

Meski demikian, Sri Sultan tetap tampak bahagia melihat antusiasme ribuan warga yang memadati kawasan kirab. Ia berharap momentum ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga mempererat kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat. “Semoga sama-sama sehat, yang penting itu,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sultan juga menyampaikan filosofi Jawa “Lir Gumanti” yang menggambarkan bahwa kehidupan dan perubahan akan terus berjalan silih berganti. Pesan ini sekaligus menjadi refleksi bagi masyarakat DIY agar tetap adaptif dan menjaga harmoni di tengah perubahan zaman.

Lebih lanjut, Sultan memastikan bahwa hasil bumi yang dibawa dalam kirab oleh para pamong dan lurah se-DIY tidak hanya menjadi simbol semata. Hasil tersebut, kata dia, akan dikembalikan kepada masyarakat melalui bupati dan wali kota untuk kemudian dibagikan secara merata.

“Secara simbolis diberikan ke bupati wali kota, harapannya bisa dibagi rata dan bermanfaat untuk masyarakat,” jelasnya.

Kirab budaya sendiri berlangsung semarak sejak pagi hari, dimulai dari kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta dan berakhir di Keraton Yogyakarta. Ribuan peserta dari berbagai wilayah di DIY turut ambil bagian dengan mengenakan busana adat khas Yogyakarta.

Para mantri pamong praja dan lurah tampil anggun dengan pakaian adat jangkep. Peserta putra mengenakan baju peranakan lengkap dengan wiru engkol, sementara peserta putri mengenakan kebaya hitam model Kartini dengan sanggul tekuk. Penampilan ini semakin menambah kekhidmatan sekaligus keindahan kirab budaya.

Tak hanya itu, setiap daerah juga membawa hasil bumi dan potensi unggulan masing-masing, mulai dari hasil pertanian hingga produk khas lokal. Hal ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus bentuk penghormatan kepada Sultan sebagai pemimpin daerah.

Antusiasme masyarakat pun terlihat sepanjang rute kirab. Ribuan warga dan wisatawan memadati sisi jalan untuk menyaksikan prosesi budaya yang sarat makna tersebut.