Tradisi HB IX Berlanjut, Sri Sultan Bantu Mahasiswa NTT Terdampak Gempa agar Tetap Kuliah di Jogja

Pemda DIY menyalurkan bantuan untuk masyarakat dan mahasiswa NTT terdampak gempa. Sekitar 545 mahasiswa NTT di Yogyakarta terdata terdampak dan mendapat dukungan pangan serta keringanan biaya pendidikan. (FOTO: aroel/jogjabanget)
YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) kembali meneruskan tradisi solidaritas yang pernah dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan membantu mahasiswa dari daerah terdampak bencana agar tetap dapat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta.
Kali ini, perhatian diberikan kepada mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa, bersamaan dengan penyaluran bantuan untuk masyarakat NTT.
Bantuan tersebut diserahkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada Kepala Badan Penghubung Daerah Provinsi NTT Florida Taty Satyawati di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).
Dukungan yang disiapkan Pemda DIY mencakup kebutuhan tanggap darurat, kesehatan, kemanusiaan, pangan, hingga pendidikan bagi mahasiswa NTT yang berada di Yogyakarta.
Sri Sultan mengatakan, perhatian terhadap mahasiswa dari daerah terdampak bencana merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Tradisi tersebut bermula ketika terjadi pergolakan PRRI/Permesta. Saat itu, mahasiswa asal Sumatera Barat yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta mengalami kesulitan biaya karena tidak lagi memperoleh kiriman dari keluarga di daerah asal.
“Daripada dia belajar di Jogja itu drop out, ya lebih baik pada waktu itu Pemda DIY yang membantu living cost, di mana dia tetap bisa melanjutkan pendidikan di Jogja,” kata Sri Sultan.
Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan ketika sejumlah wilayah Indonesia mengalami bencana besar, termasuk gempa dan tsunami Aceh. Kala itu, Pemda DIY memberikan bantuan kepada lebih dari 600 mahasiswa terdampak hingga mereka dapat menyelesaikan pendidikan di Yogyakarta.
“Dari peristiwa itu sampai sekarang selalu kita punya tradisi melakukan hal yang sama bagi mahasiswa-mahasiswa yang kena dampak bencana,” ujar Sri Sultan.
Mahasiswa NTT Dapat Keringanan Biaya Pendidikan
Untuk mahasiswa NTT terdampak gempa, Pemda DIY telah menerbitkan Surat Edaran kepada perguruan tinggi di DIY agar memberikan kelonggaran biaya pendidikan.
Pemda DIY juga masih melakukan pendataan untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan mahasiswa, termasuk kemungkinan memberikan dukungan living cost.
Dukungan pangan juga diberikan kepada mahasiswa NTT yang tinggal di asrama. Bantuan tersebut berupa beras sebanyak 405 kilogram per bulan, telur, abon ayam, dan mi instan hingga Desember 2026.
Respons Pemda DIY tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi NTT.
Florida Taty Satyawati menyebut DIY sebagai provinsi pertama yang memberikan bantuan khusus kepada mahasiswa NTT terdampak, terutama untuk kebutuhan biaya hidup.
“Sepengetahuan kami, Provinsi DIY adalah provinsi pertama yang memang memberikan bantuan khusus untuk mahasiswa, untuk cost living-nya,” ujar Florida.
Ia juga menyampaikan bahwa Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena telah menghubungi Sri Sultan untuk menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut.
“Beliau menyampaikan, begitu nanti selesai penyerahan bantuan, beliau akan mengucapkan terima kasih kepada Ngarsa Dalem, karena memang sahabat lama,” kata Florida.

Sekitar 545 Mahasiswa NTT di Yogyakarta Terdampak
Perhatian terhadap mahasiswa NTT juga dirasakan langsung oleh masyarakat NTT yang berada di Yogyakarta.
Sesepuh NTT di DIY, Moris Sarumaha, mengatakan BPBD DIY menjadi salah satu pihak pertama yang merespons dengan melakukan pendataan mahasiswa NTT yang terdampak gempa.
“Jadi kami sangat berterima kasih bahwa yang paling respons pertama adalah dari DIY,” ujar Moris.
Berdasarkan pendataan sementara, sekitar 545 mahasiswa NTT di Yogyakarta tercatat terdampak gempa. Data tersebut masih terus diperbarui.
Moris menegaskan, masyarakat NTT yang tinggal di Yogyakarta akan tetap menjaga situasi kondusif selama berada di daerah istimewa ini.
“Kami tetap menjadi orang-orang Jogja yang berasal dari NTT yang selalu akan menjaga kondusivitas Yogyakarta,” katanya.
Salah satu mahasiswa terdampak adalah Vansianus Masir, mahasiswa semester delapan APMD asal Desa Wangkarweli, Kecamatan Lambaleda Timur, Kabupaten Manggarai Timur.
Ia mendapat informasi bahwa lima rumah di kampung halamannya mengalami kerusakan parah. Selain itu, longsor menyebabkan sejumlah rumah retak dan tiga rumah harus ditinggalkan penghuninya.
Komunikasi Vansianus dengan keluarga juga sempat terputus setelah gempa. Ia terakhir berbicara dengan ibunya pada pagi setelah gempa sebelum jaringan komunikasi kembali sulit diakses.
Kabar mengenai kondisi keluarganya yang aman akhirnya diperoleh melalui seorang teman di daerah tersebut. Di Yogyakarta, Vansianus juga belum menerima kiriman biaya dari keluarga sejak gempa terjadi.
“Sehingga saya merasa berterima kasih sekali kepada Pemda DIY karena peduli dengan kami,” katanya.

Bantuan DIY Tak Hanya untuk Mahasiswa
Selain dukungan pendidikan dan pangan bagi mahasiswa, Pemda DIY juga menyiapkan bantuan keuangan tanggap darurat sebesar Rp1 miliar kepada Pemerintah Provinsi NTT.
Bantuan kesehatan berupa obat-obatan dan perbekalan kesehatan senilai Rp38,48 juta juga disiapkan. Pengiriman bantuan kesehatan melibatkan MDMC, FK-KMK UGM, JNE, dan YEU.
Dukungan juga datang dari sektor jasa keuangan DIY. Bantuan sebesar Rp90 juta dihimpun melalui Bank Indonesia, OJK, FKIJK, dan BPD DIY untuk disalurkan melalui Baznas.
Sementara ASN Pemda DIY memberikan donasi awal sebesar Rp10 juta melalui Baznas. Pemda DIY juga membuka penggalangan Donasi Peduli NTT bagi ASN.
Sri Sultan menilai berbagai bantuan tersebut merupakan hasil konsolidasi berbagai unsur di DIY, mulai dari pemerintah daerah hingga lembaga dan sektor jasa keuangan.
“Jadi saya kira ini lebih guyub, kita mencoba mengkonsolidasikan bantuan pada wilayah yang memang terjadi gempa,” ujar Sri Sultan.
Ia berharap seluruh bantuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat NTT, meskipun belum tentu mampu memenuhi seluruh kebutuhan di lapangan.
“Semoga saja dari bantuan ini ya ada manfaatnya biarpun mungkin tidak memenuhi kebutuhan yang memang dibutuhkan,” tutur Sri Sultan.
Sementara itu, Florida menyebut kebutuhan mendesak masyarakat NTT di wilayah terdampak saat ini meliputi tenaga kesehatan, tenda, dan makanan siap saji. Pemerintah Provinsi NTT juga memiliki posko di Yogyakarta dan Jakarta untuk menghimpun bantuan yang selanjutnya disalurkan melalui diaspora NTT. (aroel)

