jogjabanget.id

Tanpa Iring-iringan Gunungan, Garebeg Besar Keraton Disederhanakan dan Tetap Jaga Nilai Sakral Tradisi

Keraton Yogyakarta akan menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar 1447 H pada 27 Mei 2026 dengan prosesi yang disederhanakan sesuai dhawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Meski tanpa gunungan keluar keraton, nilai sakral dan esensi sedekah raja tetap dijaga. (dok. Pemda DIY)

Keraton Yogyakarta akan menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar 1447 H pada 27 Mei 2026 dengan prosesi yang disederhanakan sesuai dhawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Meski tanpa gunungan keluar keraton, nilai sakral dan esensi sedekah raja tetap dijaga. (dok. Pemda DIY)

Author
Redaksi
21 Mei 2026

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Keraton Yogyakarta akan menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar 1447 H/2026 pada Rabu (27/5) mendatang dengan format yang lebih sederhana dibandingkan biasanya.

Prosesi sakral yang rutin digelar setiap Iduladha ini tetap berlangsung khidmat, meski tanpa iring-iringan gunungan keluar dari kompleks Keraton maupun kehadiran pasukan prajurit seperti pada penyelenggaraan reguler.

Salah satu Abdi Dalem senior berpangkat Bupati Nayaka Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, membenarkan adanya dhawuh langsung dari Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk menyederhanakan prosesi.

“Betul bahwa kami, Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini nampi Dhawuh Dalem untuk menyederhanakan prosesi Garebeg dimulai dari besok Garebeg Besar,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (20/5/2026).

Menurut Kangjeng Kusuma, seluruh abdi dalem akan menjalankan dhawuh tersebut sebaik mungkin sebagai bentuk pengabdian kepada Keraton.

Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo, menjelaskan bahwa perubahan format seperti ini bukan kali pertama terjadi dalam sejarah Garebeg.

“Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama,” jelasnya.

Ia menuturkan, sejak masa Sultan terdahulu hingga era pandemi Covid-19, upacara Garebeg memang beberapa kali mengalami penyesuaian.

Pada Garebeg Besar tahun ini, seluruh ubarampe pareden hanya dibagikan secara internal kepada para abdi dalem di lingkungan Keraton.

“Tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga. Seluruh ubarampe pareden nantinya hanya akan dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta,” papar KRT Kusumanegara.

Dengan penyederhanaan ini, sejumlah prosesi pendukung seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik yang biasanya digelar beberapa hari sebelumnya juga ditiadakan.

Pemerintah Daerah DIY menghormati penuh kebijakan internal Keraton tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan penyederhanaan ini tidak mengurangi nilai sakral Garebeg sebagai simbol sedekah raja kepada rakyat.

“Masyarakat perlu memahami bahwa penyesuaian format tahun ini merupakan bentuk penyederhanaan dan bukan peniadaan upacara adat. Tidak digelarnya prosesi pembagian pareden ke luar lingkungan Keraton sama sekali tidak menghilangkan esensi utama Garebeg,” tegas Dian.

Menurutnya, nilai luhur Garebeg tetap terjaga melalui pembagian pareden kepada abdi dalem sebagai bagian dari mekanisme internal Keraton.

Dian juga mengingatkan bahwa adaptasi tradisi sesuai konteks zaman merupakan hal lumrah dalam sejarah panjang Garebeg.

Secara historis, tradisi yang berasal dari konsep Rajawedha ini terus berkembang sejak era Kerajaan Demak sebagai media syiar Islam, hingga kini menjadi salah satu simbol budaya paling kuat di Yogyakarta.

Meski tanpa keramaian rebutan gunungan yang biasa dinantikan masyarakat, Garebeg Besar tahun ini tetap menjadi momentum sakral penuh doa keselamatan bagi seluruh warga Yogyakarta.