Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Latih Abdi Dalem Kelola Sampah Berbasis Filosofi Jawa

Keraton Yogyakarta menggelar pelatihan pengelolaan sampah berbasis filosofi Hamemayu Hayuning Bawono. Libatkan abdi dalem hingga wisatawan. (dok. Kraton Jogja)

Keraton Yogyakarta menggelar pelatihan pengelolaan sampah berbasis filosofi Hamemayu Hayuning Bawono. Libatkan abdi dalem hingga wisatawan. (dok. Kraton Jogja)

Author
Redaksi
22 April 2026

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, Keraton Yogyakarta menggelar pelatihan bertajuk Transformasi Tata Kelola Sampah Kawasan Wisata Keraton Yogyakarta

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 20–22 April 2026, di Museum Wahanarata dan diikuti puluhan abdi dalem yang bergerak di bidang pariwisata dan kebersihan.

Pelatihan ini menjadi upaya konkret Keraton dalam mengelola sampah secara mandiri, sekaligus menghidupkan kembali filosofi lokal Hamemayu Hayuning Bawono—konsep Jawa yang menekankan harmoni manusia dengan alam.

KRT Jatihadiningrat, Penghageng II Kawedanan Radya Kartiyasa, menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan memberi manfaat luas, tidak hanya bagi Keraton tetapi juga masyarakat dan wisatawan.

“Keraton selalu terbuka pada kegiatan yang memberikan manfaat. Semoga materi pelatihan ini bisa diterapkan dalam penanganan sampah sehari-hari,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Tantangan Sampah di Kawasan Wisata Keraton

Koordinator operasional pariwisata Keraton, Mas Jajar Praba Hanendra, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di kawasan wisata seperti Kedaton, Tamansari, dan Museum Wahanarata memiliki tantangan tersendiri.

Awalnya, sampah didominasi daun dari pepohonan. Namun, meningkatnya jumlah wisatawan membuat sampah organik bercampur dengan sampah anorganik.

“Tantangan utama adalah melibatkan partisipasi wisatawan. Di Tamansari saja, kunjungan bisa mencapai 3.500 orang per hari, bahkan dua kali lipat saat akhir pekan,” jelasnya.

Sejumlah fasilitas seperti tempat sampah terpilah sudah disediakan, namun sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi dinilai masih sangat dibutuhkan.

Belajar dari Kampung dan Filosofi Jawa

Dalam pelatihan ini, Keraton juga menggandeng komunitas warga, salah satunya dari RW 05 Mangkuyudan. Ketua RW, Ganang Iwan Surya Yudha, berbagi praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Warga setempat mengelola sampah anorganik melalui bank sampah, sementara sampah organik diolah menggunakan biopori jumbo menjadi pupuk yang bisa dimanfaatkan kembali atau dijual.

Sementara itu, fasilitator dari Sirkoola, Sholahuddin Nurazmy, menekankan bahwa Keraton sebenarnya sudah memiliki konsep pengelolaan lingkungan sejak lama melalui filosofi Hamemayu Hayuning Bawono.

“Filosofi ini lahir jauh sebelum konsep ekologi modern seperti Hari Bumi. Tinggal bagaimana diterjemahkan ke praktik nyata,” ungkapnya.

Ia mencontohkan konsep tradisional seperti pawuhan (lubang sampah daun di pekarangan) yang bisa diadaptasi dengan sistem modern seperti tempat sampah terpilah dan biopori.

Libatkan Wisatawan, Jadi Daya Tarik Baru

Ke depan, pengelolaan sampah di Keraton tak hanya soal kebersihan, tapi juga bisa menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Abdi dalem diharapkan dapat mengajak wisatawan untuk ikut memilah sampah hingga melihat proses pembuatan kompos.

“Akan menarik jika wisatawan bisa membawa pulang pupuk hasil olahan sampah ala Keraton. Ini bisa jadi wajah baru pengelolaan sampah berbasis kearifan lokal,” tandasnya.