YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Isu manuskrip milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini tersimpan di Inggris kembali mencuat, menyusul kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, ke Yogyakarta, Rabu (8/4/2026).

Meski demikian, Penghageng Kawedanan Ageng Punakawan Datu, GKR Mangkubumi, menegaskan bahwa pembahasan terkait pengembalian manuskrip belum menjadi agenda utama dalam pertemuan tersebut.

“Belum, tadi belum sempat ngobrol seperti itu. Beliau singkat, jadi hanya ngobrolin soal transportasi dan stasiun ini,” ujar GKR Mangkubumi di Stasiun Yogyakarta.

Ia membuka kemungkinan bahwa isu manuskrip tersebut dapat dibahas lebih lanjut dalam pertemuan berikutnya antara pihak Keraton dan Pemerintah Inggris.

Diketahui, keberadaan manuskrip Keraton Yogyakarta di Inggris tidak lepas dari sejarah panjang, terutama sejak peristiwa Geger Sepehi pada 1812. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah koleksi penting Keraton, termasuk manuskrip berharga, dibawa oleh pasukan Inggris.

Sebagian koleksi tersebut kini tersimpan di British Library dan menjadi bagian dari arsip penting yang terdokumentasi secara internasional.

Upaya pelestarian manuskrip Keraton sebenarnya telah dilakukan sejak lama. Pada periode 1985–1987, digitalisasi awal dilakukan dalam bentuk mikrofilm oleh antropolog Jennifer Lindsay atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Hasil mikrofilm tersebut kemudian disimpan di berbagai institusi, termasuk Arsip Nasional RI dan sejumlah perpustakaan internasional.

Langkah berlanjut pada 2018 ketika British Library bekerja sama dengan pihak Keraton untuk mendigitalisasi manuskrip koleksi Yogyakarta. Setahun kemudian, pada 2019, sebanyak 75 manuskrip digital berhasil diidentifikasi sebagai koleksi Keraton dan diserahkan dalam bentuk salinan digital.

Meski belum dibahas secara spesifik dalam pertemuan terbaru, isu pengembalian atau akses terhadap manuskrip Keraton tetap menjadi perhatian dalam hubungan budaya antara Indonesia dan Inggris.

Selain manuskrip, Keraton juga terus melakukan digitalisasi koleksi lain seperti wayang, gending, hingga arsip budaya melalui berbagai lembaga internal, sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya tetap lestari.

Dengan adanya komunikasi yang terus terjalin, peluang kerja sama lanjutan, baik dalam bentuk digitalisasi, penelitian, maupun kemungkinan repatriasi yang masih terbuka di masa mendatang.