Sleman Serius Jadi Kota Film, “Ajisaka” Bawa Cerita Jawa ke Hollywood dan Disiapkan Tembus Bioskop Seluruh Dunia

Film animasi Ajisaka karya Prof. Mohammad Suyanto dari AMIKOM Yogyakarta memasuki tahap akhir dan disiapkan menembus pasar Hollywood. Pemkab Sleman juga mendorong ekosistem perfilman dan mengincar status Kota Film UNESCO. (FOTO: aroel M/jogjabanget)
SLEMAN, jogjabanget.id - Film animasi “Ajisaka” garapan Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta sekaligus sutradara, Prof. Dr. Mohammad Suyanto, M.M., memasuki tahap akhir produksi. Film yang mengangkat kisah mitologi Jawa dengan pendekatan world class story tersebut kini tengah menjalani proses penyuntingan oleh editor film Hollywood.
Prof. Yanto mengungkapkan, penyuntingan film “Ajisaka” saat ini ditangani Daren T. Holmes, editor yang pernah terlibat dalam sejumlah film animasi internasional seperti The Lion King, Ratatouille, How to Train Your Dragon, dan Puss in Boots.
“Diedit ulang sedikit oleh Daren T. Holmes. Daren T. Holmes itu editor film The Lion King, Ratatouille, How to Train Your Dragon, Puss in Boots. Yang jelas ini editor kelas atas,” ujar Prof. Yanto saat ditemui di Ruang Sembada, Kompleks Parasamya, Sleman, Jumat (21/8/2026) malam.
Selain editor, Prof. Yanto menyebut proyek tersebut juga tengah dipersiapkan untuk melibatkan sejumlah talenta perfilman Hollywood lainnya. Bahkan, ia mengaku sedang menjajaki kerja sama dengan mantan eksekutif Disney, John Lasseter.
“Besok kemudian saya dipadu dengan sutradara pemenang Oscar. Kemudian kita sedang meng-hire, merayu John Lasseter, yaitu mantan Disney. Kalau tiga itu berkumpul, wah menang lagi kita,” katanya.
“Ajisaka” Ditargetkan Rampung Agustus
Prof. Yanto menargetkan proses penyelesaian film “Ajisaka” rampung pada Agustus 2026. Setelah itu, film akan mulai ditawarkan kepada calon distributor mulai September hingga November.
“Semoga bulan ini selesai. Kemudian mulai September sampai akhir November mulai kita jual,” ungkapnya.
Ia mengatakan, produksi “Ajisaka” membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Salah satu tantangan terbesar pada awal produksi adalah belum tersedianya pipeline animasi yang memadai.
Meski demikian, sebagian besar proses pengembangan film dilakukan di Indonesia, termasuk melibatkan talenta dari Universitas AMIKOM Yogyakarta.
Sekitar 80 persen animator yang menggarap “Ajisaka” disebut berasal dari mahasiswa maupun alumni AMIKOM. Sementara untuk pengisi suara, tim produksi menggunakan talenta dari Hollywood.

Angkat Mitologi Jawa dengan Filosofi Ki Ageng Suryomentaram
“Ajisaka” mengambil inspirasi dari kisah-kisah tradisional Jawa, tetapi dikembangkan dengan pendekatan cerita yang berbeda. Prof. Yanto mengaku terinspirasi dari kisah Jaka Tarub.
Dalam versinya, Ajisaka merupakan anak dari Saka dan seorang bidadari, sedangkan Dewata Cengkar menjadi sosok yang berseberangan dengan Ajisaka.
Namun, inti cerita tidak hanya terletak pada pertarungan antara tokoh baik dan jahat. Prof. Yanto justru ingin mengangkat perjalanan batin Ajisaka menggunakan pemikiran Ki Ageng Suryomentaram.
“Pola penceritaan saya adalah journey jiwanya Ajisaka. Saya menggunakan Ki Ageng Suryomentaram. Jiwa bayi, jiwa anak-anak, kramadangsa, manungsa tanpa tondha,” jelasnya.
Menurut dia, konsep tersebut membawa karakter Ajisaka menuju kondisi jiwa yang ikhlas dan matang.
“Kalau sudah inilah yang namanya manungsa tanpa tondha, itu sama dengan jiwa ikhlas, sama dengan jiwa mutmainnah,” imbuhnya.
Prof. Yanto menyebut, sebagian besar cerita Indonesia selama ini masih berhenti pada tingkatan tertentu. Melalui “Ajisaka”, ia ingin membawa cerita tersebut ke level yang dapat diterima penonton dunia.
“Seluruh hampir semua cerita Indonesia itu hanya level tiga. Jadi saya hanya menaikkan satu level menjadi world class story. Hanya itu rahasianya, dengan journey-nya Ki Ageng Suryomentaram,” katanya.
Musik Direkam di Paramount Pictures
Dari sisi musik, proses penggarapan juga melibatkan musisi dan studio berkelas internasional. Prof. Yanto mengatakan sekitar 80 persen musik film telah ditempelkan.
Musik tersebut digarap Grand Kirkhope dan direkam di Paramount Pictures dengan melibatkan sekitar 44 personel.
“Nanti Anda akan nonton ‘Ajisaka’ musik yang berbeda dengan film Indonesia, sudah Hollywood style, karena direkam di Paramount Pictures,” ujarnya.
Untuk pemasaran, film tersebut ditargetkan masuk jaringan bioskop internasional. Bahkan, Prof. Yanto menyebut pihaknya tengah berkomunikasi dengan sejumlah perusahaan besar seperti Sony Pictures, Paramount, Netflix, hingga Disney.
“Premierenya insyaallah di Hollywood. Bergantung pada tadi, apakah yang menang Sony, atau Paramount, atau Netflix. Kalau bagi saya yang duitnya paling besar,” ucapnya.
Ia menambahkan, terdapat sekitar 22 pihak yang menunjukkan ketertarikan terhadap film tersebut, dengan Sony Pictures disebut menjadi salah satu yang paling serius.
“Targetnya bioskop seluruh dunia,” tegasnya.

Produksi Disebut Bernilai Rp200 Miliar Lebih
Prof. Yanto mengungkapkan, CEO MSV Studio menyebut nilai produksi film tersebut mencapai sekitar 15 juta dolar AS.
“Ketika saya ditanya oleh VOA New York, CEO saya, CEO-nya MSV Studio ngomongnya 15 million dollars,” ujarnya.
Jika terealisasi sesuai nilai tersebut, “Ajisaka” diyakini dapat memberikan kontribusi besar terhadap ekspor ekonomi kreatif Indonesia.
Prof. Yanto juga menilai keberhasilan film tersebut akan membuka peluang investasi dari Hollywood ke Indonesia serta memperkuat posisi Sleman dalam ekosistem perfilman nasional.
HAKI “Ajisaka” Dipersiapkan untuk Indonesia dan Amerika
Selain produksi, hak kekayaan intelektual “Ajisaka” juga telah didaftarkan di Indonesia dan Amerika Serikat.
Prof. Yanto mengatakan dirinya kini telah bergabung dengan Writers Guild of America sebagai penulis. Menurutnya, masuk ke ekosistem industri film Amerika menjadi salah satu kunci agar karya-karya berikutnya lebih mudah menembus pasar global.
“Ajisaka itu selain kita HAKI-kan di Indonesia, juga di Amerika di-HAKI-kan oleh lawyer saya. Termasuk saya sebagai writer, sebagai penulisnya, saya sekarang sudah masuk Writers Guild of America,” jelasnya.
Ia menyebut proses tersebut membuka jalan untuk proyek berikutnya, termasuk cerita “Princess of Borobudur” yang terinspirasi dari Kitab Avadana di kompleks Candi Borobudur.
Sleman Dorong Diri Jadi Kota Film
Di sisi lain, Bupati Sleman Harda Kiswaya menilai pengembangan industri film dapat menjadi salah satu solusi untuk membuka lapangan kerja bagi generasi muda.
Menurut Harda, Sleman memiliki modal ekosistem yang cukup lengkap, mulai dari studio film dan animasi, komunitas, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, hingga lokasi produksi.
“Dari Pemerintah Kabupaten Sleman, saya yakin film ini menjadi salah satu harapan kami untuk peningkatan perekonomian. Dan juga mengurangi pengangguran yang ada di Kabupaten Sleman dari anak-anak kita yang terdidik,” ujar Harda.
Ia mengatakan, Pemkab Sleman telah mengalokasikan lebih dari Rp13 miliar melalui program Sleman Pintar sepanjang 2022-2025 untuk pendidikan film, animasi, dan video yang melibatkan hampir 500 lulusan SMA.
“Anak-anak Sleman tidak hanya menjadi penonton, tapi juga memiliki kesempatan untuk menjadi pencipta, pekerja kreatif, animator, pembuat film, dan pelaku industri kreatif,” katanya.
Harda juga menyebut Sleman telah lolos seleksi nasional tahap lanjut pengusulan nominasi anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada sektor film.
Komisi Film Daerah Ditargetkan Rampung Agustus
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Pemkab Sleman tengah mempersiapkan pembentukan Komisi Film Daerah.
Harda mengatakan pembentukan lembaga tersebut sudah berjalan dan tinggal menunggu penetapan personel.
“Kalau bisa Agustus ini selesai, saya selesaikan,” ujarnya.
Komisi tersebut nantinya menjadi ruang komunikasi antara pemerintah, praktisi, akademisi, dan pelaku industri perfilman untuk memastikan arah pengembangan Sleman sebagai kota film berjalan sesuai tujuan.
Festival Film Angkat Kuliner Sleman
Penguatan ekosistem perfilman juga dilakukan Dinas Kebudayaan Sleman melalui transformasi lomba film pelajar menjadi festival film.
Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan Sleman, Dekhi Nugroho, mengatakan festival digelar pada 20-22 Agustus dengan mengangkat tema kuliner sebagai identitas budaya lokal.
“Di dalam festival itu, kita mengangkat tema kuliner sebagai identitas budaya lokal. Kita mengangkat kuliner Sleman, di mana kita punya WBTb (Warisan Budaya Takbenda),” jelas Dekhi.
Beberapa kuliner yang diangkat antara lain Ayam Goreng Kalasan, Jadah Tempe, Pondoh Tempe, Slondok Renteng, Kaliurang, dan Wedang Jiwan.
Festival tersebut tidak hanya menghadirkan kompetisi film, tetapi juga workshop, screening film, dan creative expo yang dipusatkan di Taman Kuliner.
Menurut Dekhi, langkah tersebut diharapkan membuat generasi muda mengenal budaya lokal sekaligus memperkuat ekosistem perfilman Sleman.
“Jadi tidak hanya film saja, tetapi juga muatan gastronominya,” pungkasnya.

