Caitlin Halderman Tiru Logat Jawa Medok di Film Baby Udon, Denny Sumargo Ungkap Alasan Jadi Hajime

Film Baby Udon menghadirkan kisah cinta Indonesia-Jepang yang terinspirasi dari kisah nyata. Caitlin Halderman dan Denny Sumargo mengungkap pengalaman mereka memerankan Fanny dan Hajime. (dok. aroel M)
SLEMAN, jogjabanget.id - Film Baby Udon menghadirkan cerita cinta lintas budaya yang terinspirasi dari kisah nyata. Menariknya, karakter Fanny yang diperankan Caitlin Halderman turut membawa nuansa Jawa melalui dialog dengan aksen medok.
Hal tersebut menjadi perhatian saat sesi screening film Baby Udon di Studio XXI Ambarrukmo Plaza, Senin (17/8/2026) malam.
Dalam film tersebut, Caitlin Halderman berperan sebagai Fanny, sementara karakter Hajime dimainkan Denny Sumargo.
Caitlin mengaku tidak menjalani latihan khusus untuk mempelajari aksen Jawa medok. Ia lebih banyak melakukan observasi terhadap cara bicara orang di sekitarnya.
“Pakai medok-medoknya ini sebenarnya aku enggak belajar banyak sih. Aku observasi aja gitu,” ujar Caitlin.
Menurutnya, kemampuan meniru aksen dan cara berbicara orang lain cukup membantunya dalam membangun karakter Fanny.
“Aku tuh punya kemampuan lumayan gampang meniru aksen-aksen orang, cara ngomong orang tuh aku lumayan gampang nangkep,” katanya.
Caitlin juga mengamati langsung gaya bicara lawan mainnya untuk mendapatkan karakter Jawa yang terasa natural.
“Karena kan ngobrol sama Kak Fany, terus aku perhatiin medoknya Kak Fany itu sampai mana, cara ngomongnya itu gimana. Lebih ke situnya sih. Cuma kalau untuk belajar medok enggak belajar-belajar banget, memang kayak mendengarkan terus aku mencontohkan aja,” jelasnya.
Vonny Anggraini Soroti Kekhawatiran Orang Tua
Sementara itu, Vonny Anggraini yang memerankan Ibu Retno, ibu Fanny, mengatakan karakter yang dimainkannya menggambarkan kekhawatiran orang tua ketika anak memiliki pasangan dengan perbedaan usia maupun latar belakang.
“Kalau buat saya sebagai yang jadi ibunya Fanny, kan pasti juga ada kekhawatiran dari orang tua anak mau berjodoh dengan mungkin yang umurnya beda, dan lain-lain. Aku mewakili orang tua yang punya kekhawatiran seperti itu,” ungkap Vonny.
Menurutnya, Baby Udon memiliki banyak sisi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Film ini sebenarnya banyak sekali relate-nya sama kehidupan kita dan mudah-mudahan banyak juga nilai yang bisa diambil dari film ini,” tambahnya.

Denny Sumargo Awalnya Tak Disiapkan Jadi Hajime
Di balik karakter Hajime, Denny Sumargo mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya tidak dipersiapkan sejak awal untuk memainkan karakter tersebut.
Denny awalnya terlibat sebagai produser melalui Sumargo Films yang bekerja sama dalam pengembangan film tersebut. Namun, proses pencarian pemeran Hajime berlangsung cukup lama hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk tampil sebagai pemeran utama.
“Dari awal memang harusnya bukan saya yang main. Saya di sini berdiri sebagai produser dari Sparkle Film bekerja sama dengan Letto Production dari BH juga yang mana kita lebih mengembangkan dan menggarap film ini,” kata Denny.
Proses pencarian pemeran bahkan berlangsung lebih lama dari rencana awal. Kondisi tersebut membuat Denny akhirnya turun langsung menjadi Hajime.
“Kebutuhan akan pemainnya memang kita enggak dapat. Makanya last minute, karena sudah molor sekitar lima bulan dari yang harusnya tiga bulan jadi sudah delapan bulan. Saya enggak punya pilihan selain saya harus main,” tuturnya.
Denny pun menganggap keterlibatannya sebagai Hajime merupakan bagian dari perjalanan yang sudah ditentukan.
“Aku anggap ini ada keajaiban juga kalau misalnya Hajime aku perankan bisa terlihat hidup dan berbeda dengan karakter asliku.”
Ia mengatakan sejumlah nama besar sebelumnya sempat ditawarkan untuk memerankan Hajime. Namun, ada yang tidak bisa karena jadwal, bahkan ada yang tidak memberikan respons.
“Memang kisah ini memang kayak sudah Tuhan atur. Yang jadi Fanny Caitlin, terus yang jadi Hajime saya,” ujarnya.
Dari Pebasket hingga Produser Film
Baby Udon juga menjadi pengalaman baru bagi Denny Sumargo sebagai produser film.
Ia menyebut pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran, mulai dari proses kreatif hingga tantangan dalam produksi.
“Pengalaman baru ini pastinya menambah banyak sekali hal baru, dari belajarnya, dari serunya, dari capeknya. Lengkaplah, komplit. Dan ini yang membuat aku bertumbuh.”
Denny memang dikenal pernah menjalani berbagai profesi dan bidang, mulai dari pebasket, aktor, host, YouTuber hingga kreator konten.
Kini, ia mencoba tantangan baru di balik layar sebagai produser.
“Menurut aku, orang itu kalau pengin bertumbuh, dia harus berani untuk keluar dari zona nyaman. Dan ini yang aku lakukan sekarang,” katanya.
Namun, Denny menekankan bahwa setiap proses tersebut harus dijalani dengan hati, bukan semata-mata mengejar keuntungan.
“Ini adalah mengerjakannya harus selalu pakai hati. Karena kalau mengerjakannya hanya mengejar profit dan keuntungan, aku pikir pembelajaran yang kita dapat akhirnya jadi sia-sia dan enggak punya makna.”

Berawal dari Kisah Personal Fanny
Sementara itu, Benso sebagai pihak yang terlibat dalam pengembangan film mengatakan Baby Udon berangkat dari kisah personal Fanny yang kemudian dikembangkan menjadi film.
Menurutnya, ia merasa beruntung karena justru dipilih untuk menggarap cerita tersebut.
“Sebenarnya bukan saya memilih. Saya beruntung dipilih oleh cerita beliau,” ujar Bensu.
Ia mengungkapkan, setelah kisah Fanny muncul melalui podcast, sejumlah rumah produksi besar sempat menghubungi dan menawarkan kerja sama.
Namun, Fanny akhirnya memilih membawa kisah tersebut kepada dirinya.
“Saya juga bingung. Tapi saya juga enggak mau film ini ceritanya dibikin film cuma jadi begitu saja. Jadi memang sudah kayak orang kawin, kayak kamu ketemu jodohmu yang tiba-tiba di satu tempat dan terjadilah kisah ini,” tuturnya.
Kisah Cinta Indonesia-Jepang
Baby Udon terinspirasi dari kisah nyata tentang Fanny Kondoh, perempuan muda asal Indonesia yang jatuh cinta kepada Hajime Kondoh, pria asal Jepang yang datang ke Indonesia untuk urusan pekerjaan.
Setelah menikah, keduanya menjalani kehidupan rumah tangga dengan berbagai tantangan. Perjuangan mereka untuk memiliki buah hati kemudian menghadapi ujian berat ketika Hajime divonis kanker.
Film ini disutradarai Fajar Bustomi dengan penulis Oka Aurora. Produksi film melibatkan LYTO Pictures dan Sumargo Films.
Sementara jajaran produsernya adalah Andi Suryanto, Marcella Daryanani, Denny Sumargo, dan Olivia Alan Sumargo. Baby Udon dijadwalkan hadir di bioskop mulai 3 September 2026.

