jogjabanget.id

Peternak Ayam Petelur Jogja Tertekan Harga Pakan, 1.500 Ayam Dibagikan Gratis ke Warga di Malioboro

Peternak ayam petelur yang tergabung dalam P3Y membagikan sekitar 1.500 ayam gratis di DPRD DIY. Mereka mengeluhkan harga pakan Rp8.000 per kilogram dan harga telur di bawah Rp20.000. (dok. DPRD DIY)

Peternak ayam petelur yang tergabung dalam P3Y membagikan sekitar 1.500 ayam gratis di DPRD DIY. Mereka mengeluhkan harga pakan Rp8.000 per kilogram dan harga telur di bawah Rp20.000. (dok. DPRD DIY)

Author
Redaksi
14 Agustus 20264 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Ratusan peternak ayam petelur yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta (P3Y) menggelar aksi di halaman DPRD DIY, Senin (10/8/2026).

Dalam aksi tersebut, para peternak membagikan sekitar 1.500 ekor ayam petelur secara gratis kepada masyarakat. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus menyampaikan kondisi sulit yang tengah dihadapi peternak akibat tingginya harga pakan dan rendahnya harga telur.

Koordinator Peternak DIY, Andry Patra, mengatakan aksi tersebut diikuti sekitar 500 peserta dari empat kabupaten. Mereka datang untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah melalui DPRD DIY, terutama terkait harga pakan yang dinilai sudah terlalu tinggi.

"Hari ini Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta difokuskan kumpul di sini dari empat kabupaten untuk menyampaikan aspirasi dalam rangka kita wadul ke pemerintah lewat dewan untuk menurunkan harga pakan," kata Andry.

Menurutnya, saat ini harga pakan ayam petelur telah mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram. Sementara harga telur berada di bawah Rp20.000 per kilogram.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat peternak terus mengalami kerugian selama beberapa bulan terakhir.

"Harga pakan Rp8.000 per kilo, harga telur hari ini di bawah Rp20.000. Kalau sekiranya harga pakan Rp8.000 itu minimal harga telur sekitar Rp26.000. Itu baru kami cukup untuk regenerasi ayam," ujarnya.

Andry menyebut harga telur idealnya berada di kisaran Rp25.000-Rp26.000 per kilogram agar usaha peternakan tetap dapat berjalan secara berkelanjutan.

"Peternak hari ini rugi per hari Rp6.000 per kilo telur," katanya.

WhatsApp Image 2026-08-10 at 15.35.39.jpeg

Kenapa yang Dibagikan Ayam, Bukan Telur?

P3Y memilih membagikan ayam petelur yang sudah memasuki usia afkir, bukan telur hasil produksi.

Andry menjelaskan, ayam yang dibagikan rata-rata sudah berusia sekitar 90 minggu atau lebih. Meski sebagian masih menghasilkan telur, produktivitasnya sudah menurun sehingga harus dikeluarkan dari kandang.

"Kalau dibagi telur nanti harga telurnya terserap. Kita membagikan ayam karena memang dalam rangka mengurangi ayam, karena populasi ayam hari ini cukup tinggi," jelasnya.

Menurutnya, harga ayam afkir saat ini juga sangat rendah, hanya sekitar Rp13.000-Rp14.000 per ekor. Karena itu, peternak memilih membagikannya kepada masyarakat sekaligus menunjukkan kondisi yang mereka alami.

"Jadi kita solidaritas untuk bagi-bagi ayam supaya pemerintah juga tahu, masyarakat juga tahu derita peternak rakyat hari ini," ujarnya.

P3Y menyebut pembagian ayam tersebut merupakan bagian dari aksi solidaritas dengan membawa pesan "Telur Kami untuk Masyarakat, Suara Kami untuk Keadilan!"

Peternak Soroti Harga Jagung dan Bahan Baku Pakan

Andry mengatakan tingginya harga pakan tidak terlepas dari mahalnya bahan baku, termasuk jagung yang menjadi salah satu komponen utama pakan ayam.

"Jagung ini merupakan 50 persen dari komposisi pakan. Jadi jagung harus tersedia setiap saat dan mencukupi untuk peternak," katanya.

Ia juga menyoroti harga bahan baku lain seperti katul dan konsentrat yang dinilai turut mendorong harga pakan hingga mencapai Rp7.900-Rp8.000 per kilogram.

Kondisi tersebut semakin menekan peternak karena ayam tetap harus diberi makan setiap hari, meskipun harga jual telur tidak mampu menutup biaya produksi.

Enam Tuntutan Peternak

Dalam aksi tersebut, P3Y membawa enam tuntutan kepada pemerintah.

Pertama, menurunkan harga pakan agar kembali pada tingkat yang wajar dan terjangkau bagi peternak.

Kedua, mewujudkan harga telur yang adil, baik bagi peternak, pedagang maupun konsumen.

Ketiga, menciptakan tata niaga bahan baku pakan yang sehat, adil dan transparan dari hulu hingga hilir.

Keempat, menjamin ketersediaan jagung serta akses peternak terhadap komoditas tersebut dengan harga yang wajar.

Kelima, memperkuat kelembagaan di sektor peternakan.

Keenam, meningkatkan perhatian dan aksi nyata pemerintah terhadap keberlangsungan peternakan rakyat, termasuk membantu mengatasi kelebihan populasi ayam petelur dengan menyerap ayam tua berusia lebih dari 90 minggu.

Andry berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar peternakan rakyat tidak semakin terpuruk.

"Peternak harus tetap ada, demi ketahanan pangan Indonesia," tegasnya.

WhatsApp Image 2026-08-10 at 15.35.40.jpeg

Warga Ikut Membawa Pulang Ayam Gratis

Aksi pembagian ayam tersebut menarik perhatian masyarakat. Salah satunya Rosdiana (66), warga asal Kepulauan Belitung, yang kebetulan melintas dan melihat kerumunan warga.

Ia kemudian ikut mendapatkan ayam yang dibagikan peternak.

"Jalan-jalan pas lihat orang banyak kerumun-kerumun, ternyata dikasih ayam. Kita ikut-ikut," kata Rosdiana.

Ayam tersebut rencananya akan dibawa ke asrama mahasiswa asal Belitung yang berada di Yogyakarta.

"Nanti kita kasih anak-anak asrama Belitung yang lagi kuliah di sini. Ayamnya dimasak sendiri," ujarnya.

Bagi Rosdiana, pembagian ayam tersebut menjadi rezeki tak terduga saat sedang berjalan-jalan.

"Hari ini hanya jalan-jalan dapat hoki, alhamdulillah," katanya.

P3Y berharap aksi tersebut tidak hanya menjadi simbol keprihatinan, tetapi juga mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk segera memperbaiki tata kelola sektor peternakan ayam petelur.

"Peternak berjuang, masyarakat menang," menjadi pesan yang dibawa dalam aksi tersebut.