Pendidikan Khas Kejogjaan Resmi Diperluas ke Perguruan Tinggi, Ini Pesan Sri Sultan

Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan Pendidikan Khas Kejogjaan tidak bertentangan dengan kemajuan. PKJ diharapkan menghubungkan ilmu, budaya, dan kebutuhan masyarakat di perguruan tinggi. (dok. Pemda DIY)
SLEMAN, jogjabanget.id - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) tidak dimaksudkan untuk menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, PKJ diharapkan menjadi pijakan agar kemajuan tetap berpihak pada keselamatan bumi, keadilan, dan kesejahteraan manusia.
Hal tersebut disampaikan Sri Sultan saat meluncurkan Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Pendidikan Tinggi di Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (20/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan sejumlah perguruan tinggi di DIY.
Sri Sultan mengatakan, penerapan PKJ di perguruan tinggi bukan berarti Yogyakarta menutup diri terhadap perkembangan global. Nilai-nilai Kejogjaan justru diharapkan menjadi sumber inovasi sekaligus kontribusi Yogyakarta bagi kebijakan pendidikan tinggi nasional.
Menurutnya, PKJ merupakan upaya memperpendek jarak antara ilmu pengetahuan yang dipelajari di kampus dengan kehidupan masyarakat. Ilmu, kata Sri Sultan, tidak semestinya berhenti pada buku teks, ujian, maupun ijazah.
“Pendidikan Khas Kejogjaan, yang hari ini kita luncurkan bersama, adalah ikhtiar untuk mempersingkat jarak itu. Bukan dengan menambah mata kuliah sebagai formalitas, melainkan dengan mengajak ilmu pengetahuan untuk pulang: singgah dahulu pada nilai, sebelum ia bekerja di dunia,” ujar Sri Sultan.
PKJ Bukan Sekadar Muatan Lokal
Sri Sultan menjelaskan, gagasan PKJ telah lama dirawat Dewan Pendidikan DIY sebagai upaya menjadikan kekhasan Yogyakarta sebagai bagian dari kontribusi terhadap sistem pendidikan nasional.
Melalui kerja sama dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, gagasan tersebut kini diperluas ke dalam kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian perguruan tinggi di DIY.
“Saya ingin meletakkan gagasan ini, bukan sebagai muatan lokal yang ditambahkan pada kurikulum yang sudah penuh. Melainkan sebagai cara pandang, yang mengubah bagaimana ilmu itu sendiri dipertanyakan,” tutur Sri Sultan.
Ia menilai pendidikan tidak cukup hanya menjawab pertanyaan mengenai bagaimana ilmu bekerja. Pendidikan juga harus mampu menjawab untuk apa ilmu tersebut digunakan.
Karena itu, keunggulan ilmu menurut Sri Sultan perlu diukur dari manfaatnya bagi kehidupan. Prinsip tersebut sejalan dengan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana.
“Yogyakarta, melalui kekhasannya, menawarkan satu jawaban untuk pertanyaan kedua itu, yakni Hamemayu Hayuning Bawana. Sebuah falsafah yang mengajarkan bahwa keunggulan ilmu harus diukur dari kemampuannya merawat harmoni,” ucap Sri Sultan.

Harmoni tersebut mencakup hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.
“Ilmu yang hebat namun merusak harmoni ini, betapapun canggihnya, telah kehilangan arahnya,” imbuhnya.
Kampus Diminta Jadikan Yogyakarta Laboratorium Hidup
Sri Sultan mendorong implementasi PKJ dilakukan secara nyata melalui Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Dalam bidang pengajaran, nilai-nilai Kejogjaan dapat diterapkan sesuai karakter masing-masing disiplin ilmu. Sementara dalam penelitian, Yogyakarta dapat menjadi laboratorium hidup.
Kampung, pasar, sanggar, kawasan cagar budaya, hingga wilayah rawan bencana dapat dijadikan ruang riset untuk menjawab berbagai persoalan aktual masyarakat.
Sedangkan dalam pengabdian, nilai Kejogjaan diharapkan diwujudkan melalui pendampingan berkelanjutan yang membangun hubungan timbal balik antara kampus dan masyarakat.
Sri Sultan juga menekankan pentingnya penerapan nilai tersebut dalam budaya kelembagaan perguruan tinggi.
“Sebab nilai akan kehilangan kekuatannya jika hanya diajarkan, namun tidak dicontohkan oleh institusi yang mengajarkannya,” paparnya.
Menurut Sri Sultan, PKJ mempertemukan tiga ruang yang saling melengkapi, yakni Kraton sebagai horizon nilai, kampus sebagai ruang daya kritis berbasis pengetahuan, dan kampung sebagai ruang kenyataan hidup.
Ketiganya, kata dia, bukanlah hierarki, melainkan sebuah ekosistem.
“Ilmu modern akan semakin kuat, apabila memiliki kerendahan hati, untuk mendengarkan pengetahuan yang hidup di kampung, dalam cara masyarakat menjaga air, merawat tanah, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan,” ungkap Sri Sultan.
Sebaliknya, pengetahuan lokal juga dinilai akan semakin relevan ketika diberi ruang untuk diuji dan dikaitkan dengan kebutuhan zaman.
Pendidikan Harus Membuat Manusia Lebih Merdeka
Sri Sultan menegaskan ukuran keberhasilan pendidikan tidak semata-mata dilihat dari jumlah mata kuliah maupun kegiatan akademik yang dilaksanakan.
Lebih jauh, pendidikan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan.
“Apakah pendidikan membuat manusia lebih merdeka? Apakah ilmu memperkecil penderitaan yang bisa dicegah? Apakah kampus memperluas kesempatan, bagi mereka yang selama ini berada di pinggir?” terang Sri Sultan.
Pertanyaan tersebut, lanjutnya, perlu terus menyertai perjalanan PKJ jauh setelah buku panduannya diluncurkan.
Sri Sultan pun mengajak perguruan tinggi di DIY menjadikan PKJ sebagai gerakan ilmu yang berjiwa budaya. Kebudayaan ditempatkan sebagai sumber nilai, ilmu sebagai alat pemuliaan, dan kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhirnya.
“Semoga dari Yogyakarta, lahir model pendidikan tinggi yang mampu menyatukan akar dan kemajuan, nalar dan rasa, kebijakan dan laku,” pungkasnya.
Menteri Dikti Saintek Apresiasi Buku Panduan PKJ
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Brian Yuliarto mengapresiasi peluncuran Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Pendidikan Tinggi.
Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, Brian menyebut Yogyakarta memiliki posisi penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia.
Menurutnya, Yogyakarta telah menjadi ruang lahirnya para pemikir, ilmuwan, pemimpin, dan generasi muda yang memberikan kontribusi bagi bangsa. Keistimewaan tersebut juga tidak terlepas dari nilai-nilai yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Ia menyoroti sejumlah filosofi seperti Hamemayu Hayuning Bawana, Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, serta semangat Golong Gilig.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus memiliki karakter, integritas, kepekaan sosial, dan pemahaman terhadap akar budayanya,” sebut Brian.
Menurut Brian, integrasi nilai Kejogjaan ke dalam kurikulum perlu dilakukan secara kontekstual dan kreatif. Nilai budaya tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi harus diterjemahkan menjadi pengalaman belajar.
Hal itu penting untuk membentuk cara berpikir, bersikap, sekaligus menggunakan ilmu pengetahuan agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Terlebih, mahasiswa yang menempuh pendidikan di Yogyakarta berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.
“Di sinilah Yogyakarta memiliki kesempatan untuk menjadi ruang perjumpaan antara kearifan lokal dan keberagaman Indonesia,” ujarnya.
PKJ Padukan Beragam Nilai Kejogjaan
Pendidikan Khas Kejogjaan merupakan pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Kejogjaan dengan semangat inklusif dan kolaboratif.
Materi PKJ mengintegrasikan nilai luhur yang berkembang di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah, sekaligus diperkaya dengan nilai-nilai pendidikan modern.
Dengan pendekatan tersebut, PKJ diharapkan tidak hanya menjadi materi tambahan dalam proses pendidikan tinggi, tetapi menjadi cara pandang yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kebutuhan masyarakat.


