Pembatasan Bus Wisata di Malioboro, Pelaku Usaha Minta Solusi Akses

 Bus Wisata disetop petugas di kawasan Tugu Yogyakarta yang hendak memasuki kawasan Malioboro, Selasa (21/4/2026) sore, di mana rencana pembatasan bus wisata di Malioboro menuai respons pelaku usaha. Hotel dan travel minta kejelasan akses dan solusi parkir. (dok. jogjabanget)

Bus Wisata disetop petugas di kawasan Tugu Yogyakarta yang hendak memasuki kawasan Malioboro, Selasa (21/4/2026) sore, di mana rencana pembatasan bus wisata di Malioboro menuai respons pelaku usaha. Hotel dan travel minta kejelasan akses dan solusi parkir. (dok. jogjabanget)

Author
Redaksi
23 April 2026

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Pemerintah Kota Yogyakarta mulai mematangkan rencana penataan kawasan inti Sumbu Filosofi, termasuk wacana penerapan jalur pedestrian penuh di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer.

Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama pelaku usaha hotel, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, serta Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) DIY yang digelar di Hotel Royal Darmo Malioboro, Rabu (22/4/2026).

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan forum tersebut menjadi ruang penting untuk menyerap aspirasi pelaku usaha sebelum kebijakan diterapkan secara bertahap.

“Ya hari ini kan kita mendengarkan masukan-masukan dari hotel-hotel yang ada di sepanjang Malioboro. Saya senang mendengarkan karena mereka punya usul-usul yang baik, yang konstruktif,” ujarnya.

Ia menyebut, masukan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun aturan menuju konsep full pedestrian di kawasan Sumbu Filosofi.

“Secara bertahap dan dengan berbagai catatan. Tahapannya sangat tergantung kondisi real di lapangan, makanya hari ini kita dengarkan langsung,” katanya.

Akses Bus dan Parkir Jadi Sorotan

Dalam diskusi tersebut, salah satu isu utama yang mencuat adalah akses kendaraan besar, khususnya bus wisata, yang semakin terbatas menuju kawasan Malioboro.

Hasto mencontohkan usulan dari pelaku usaha agar bus dari Terminal Ngabean tidak masuk terlalu jauh, tetapi masih diberi akses mendekati kawasan wisata.

“Misalnya tidak sampai Titik Nol, tapi bisa belok ke arah Jalan Bhayangkara. Ini jadi bahan kajian kami,” jelasnya.

Selain itu, usulan penyediaan kantong parkir alternatif juga mengemuka, termasuk pemanfaatan lahan milik swasta.

Jaga Keseimbangan Wisata dan Ekonomi

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menegaskan bahwa penataan kawasan Malioboro tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga menjaga keberlangsungan ekonomi.

“Kami meyakini keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada sinergitas antara pemerintah dan pelaku usaha,” terangnya.

Menurutnya, pembatasan kendaraan besar menjadi salah satu langkah untuk mengurangi polusi sekaligus meningkatkan kenyamanan pejalan kaki di kawasan inti Sumbu Filosofi.

Pelaku Usaha Dukung, Minta Promosi Diperkuat

Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyatakan dukungan terhadap pelestarian Sumbu Filosofi yang telah diakui dunia.

“Kami mendukung penuh. Akan lebih bagus lagi jika dipromosikan lebih luas ke wisatawan asing maupun domestik,” ungkapnya.

Sementara itu, perwakilan ASITA DIY, Trianto Sumarso, menyoroti keterbatasan akses dan parkir bus yang menjadi kendala utama bagi biro perjalanan.

“Orang ke Jogja itu pasti ke Malioboro. Tapi sekarang akses kendaraan besar makin terbatas, sementara kantong parkir juga terbatas,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah segera menetapkan titik parkir resmi yang representatif, terutama saat musim liburan.

Menuju Kawasan Ramah Pejalan Kaki

Pemkot Yogyakarta memastikan, seluruh masukan akan dikaji sebelum kebijakan diterapkan secara bertahap. Tujuannya, menciptakan kawasan wisata yang lebih nyaman, tertata, sekaligus tetap mendukung aktivitas ekonomi.