jogjabanget.id

Meriahkan HUT RI ke-81, Bendera Merah Putih 1.000 Meter Dibentangkan di Malioboro

Parade Suara Inklusi untuk Semua 2026 digelar di Malioboro menjelang HUT RI ke-81. Sekitar 1.000 peserta membawa bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter. (dok. Mustika Anjani)

Parade Suara Inklusi untuk Semua 2026 digelar di Malioboro menjelang HUT RI ke-81. Sekitar 1.000 peserta membawa bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter. (dok. Mustika Anjani)

Author
Redaksi
14 Agustus 20264 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kelompok difabel mewarnai Parade “Suara Inklusi untuk Semua 2026” yang digelar di sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan yang digagas DIWA Foundation tersebut digelar menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Parade melibatkan sekitar 1.000 peserta dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Paskibraka, organisasi masyarakat hingga komunitas.

Koordinator Kirab, Nurholis, mengatakan parade tersebut menjadi momentum untuk mengajak masyarakat semakin peduli terhadap inklusi, khususnya keberadaan penyandang disabilitas.

“Nama acaranya kan Suara Inklusi untuk Semua. Kita memang temanya, tema pesannya adalah memunculkan kepedulian terhadap inklusi. Bagaimana adik-adik kita termasuk yang difabel itu juga kita angkat, kita peduli bersama dan kita bungkus dengan hari kemerdekaan Indonesia,” ujar Nurholis.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat. Sejumlah organisasi besar turut terlibat, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) melalui Banser dan Fatayat serta Muhammadiyah.

“Kami juga melibatkan ormas besar di Indonesia, yaitu ada NU dengan Bansernya, dengan Fatayatnya, ada dari Muhammadiyah juga yang Alhamdulillah juga bisa bergabung bersama kita,” katanya.

Nurholis berharap parade tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menggerakkan masyarakat untuk semakin peduli terhadap kelompok difabel sekaligus memperkuat persatuan.

“Diharapkan masyarakat semakin tergerak dengan kaum difabel dan mempererat persatuan, kebersamaan di antara kita,” tuturnya.

Bawa Bendera Merah Putih Sepanjang 1.000 Meter

Koordinator Kirab lainnya, Herjuno Kurniawan, menjelaskan parade diikuti berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

“Untuk parade ini tentang sebuah persatuan. Pesertanya dari TNI ada, dari Polri, dari Paskibraka, kemudian dari ormas-ormas dan kelompok-kelompok masyarakat,” kata Herjuno.

Salah satu simbol utama dalam parade tersebut adalah bendera Merah Putih dengan panjang mencapai 1.000 meter yang dibawa bersama oleh para peserta.

Menurut Herjuno, bendera panjang tersebut menjadi simbol keberagaman masyarakat Indonesia yang dipersatukan dalam satu tujuan.

“Ini kita bersatu untuk membawa bendera yang panjangnya 1.000 meter. Nah, ini wujud dari sebuah kebinekaan, keberagaman yang menjadi satu tujuan,” ujarnya.

Komunitas Sepeda Ontel Ikut Meramaikan

Semangat inklusi juga datang dari komunitas sepeda ontel. Salah satunya Suryadi (74), anggota Komunitas Sepeda Ontel Jogja (KOJA), yang antusias mengikuti parade.

“Bagus, bagus. Bagus dan sehat selalu,” ujar Suryadi saat ditemui di sela kegiatan.

Suryadi mengaku sudah terbiasa mengikuti berbagai kegiatan bersepeda jarak jauh. Di antaranya rute Jogja-Borobudur, Jogja-Kaliurang hingga Jogja-Parangtritis.

“Kita sudah biasa latihan fisik. Jogja-Borobudur, Jogja-Kaliurang, Jogja-Parangtritis. Jadi biasa sudah. Gerakan olahraga sudah biasa,” katanya.

Dalam parade kali ini, peserta dari komunitas sepeda ontel dibatasi sekitar 30 orang. Namun, komunitas tersebut memiliki anggota lebih dari 150 hingga sekitar 200 orang.

Suryadi mengatakan, aktivitas komunitas tidak hanya berkaitan dengan bersepeda, tetapi juga kegiatan sosial dan lingkungan.

Mereka antara lain rutin membagikan sedekah saat Ramadan, melakukan penanaman pohon, menyebarkan bibit, melepas burung hingga kegiatan sosial lainnya.

Pesan Kemerdekaan: Jangan Hanya Seremonial

Peserta lainnya, Yanto (63), mengatakan dirinya baru pertama kali mengikuti Parade Suara Inklusi. Namun, ia telah aktif mengikuti berbagai kegiatan sejak 2010.

“Kalau Suara Inklusi baru sekarang,” kata Yanto.

Menurutnya, momentum HUT Kemerdekaan RI seharusnya tidak hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial. Peringatan kemerdekaan juga perlu menjadi kesempatan untuk membangun kesadaran sejarah dan kepedulian terhadap sesama.

“Bagaimana kita membangun kesadaran memori kolektif kita tentang momentum peristiwa Proklamasi Kemerdekaan yang kita peringati hendaknya jangan hanya sekadar upacara. Jangan sekadar hura-hura,” ujarnya.

Ia menilai masyarakat perlu terus mengingat jasa para pahlawan, menjaga budaya, serta membangun kedisiplinan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Bagaimana kita bisa membangun kesadaran kesejarahan dan juga kesadaran peduli-peduli yang lain seperti disiplin, kemudian peduli budaya, jangan melupakan sejarah bangsa, para pahlawan, dan sebagainya,” lanjutnya.

Yanto juga berharap pemerintah benar-benar mewujudkan kedaulatan rakyat dan tidak menjadikan peringatan kemerdekaan hanya sebagai momentum populisme.

“Hendaknya kita benar-benar bisa mewujudkan kedaulatan rakyat. Jadi, jangan hanya sekadar populisme, tapi kita benar-benar harus membangun bangsa ini dengan penuh kedisiplinan, penuh kesadaran sejarah,” tegasnya.

Baginya, kemerdekaan perlu dimaknai melalui tindakan nyata untuk menjaga persatuan, lingkungan, budaya dan kepedulian sosial.