Alumni UGM Ini Tembus Antartika, Ezra Ceritakan 57 Hari Riset di Kutub Selatan

Alumni UGM Ezra Timothy Nugroho berbagi kisah mengikuti ekspedisi 57 hari di Antartika untuk meneliti DNA purba hewan laut. (dok. jogjabanget.id)

Alumni UGM Ezra Timothy Nugroho berbagi kisah mengikuti ekspedisi 57 hari di Antartika untuk meneliti DNA purba hewan laut. (dok. jogjabanget.id)

Author
Redaksi
10 April 2026

SLEMAN, jogjabanget.id - Kisah inspiratif datang dari alumni Universitas Gadjah Mada, Ezra Timothy Nugroho, yang sukses mengikuti ekspedisi penelitian selama 57 hari di Antartika.

Pemuda 25 tahun asal Jakarta ini merupakan lulusan Fakultas Biologi UGM tahun 2019 dan kini melanjutkan studi di University of Tasmania, Australia. Ia terlibat dalam riset internasional untuk meneliti DNA purba dari sedimen laut di kawasan Antartika.

“Saya meneliti sedimentary ancient DNA, jadi DNA purba dari sedimen bawah laut di Antartika, khususnya untuk mendeteksi DNA hewan moluska,” ujar Ezra saat ditemui di Gedung Pusat UGM, Kamis (9/4/2026).

Riset DNA Purba, Ungkap Kehidupan Ratusan Ribu Tahun Lalu

Dalam riset S2-nya, Ezra berhasil mengidentifikasi DNA hewan laut dari sedimen yang berusia antara 6 ribu hingga 350 ribu tahun.

“Kami berhasil menemukan spesies moluska dari DNA di sedimen tersebut. Ini pertama kalinya penelitian seperti ini dilakukan,” jelasnya.

Temuan ini membuka peluang besar untuk memahami bagaimana hewan laut beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sejak ribuan tahun lalu.

Ekspedisi 57 Hari Penuh Tantangan

Ekspedisi dimulai dari Hobart, Tasmania, menggunakan kapal riset milik pemerintah Australia. Selama hampir dua bulan, Ezra harus beradaptasi dengan kondisi ekstrem.

“Kami kerja 12 jam setiap hari tanpa libur. Suhu bisa mencapai minus 30 derajat saat badai, dan hampir 24 jam terang karena musim panas,” ungkapnya.

Tak hanya suhu ekstrem, ombak besar dan kehidupan di kapal juga menjadi tantangan tersendiri bagi Ezra yang baru pertama kali mengikuti ekspedisi laut.

Melihat Paus hingga Aurora

Di balik tantangan, Ezra juga merasakan pengalaman tak terlupakan selama di Antartika.

“Hampir setiap hari kami melihat paus, pinguin, dan gunung es. Bahkan bisa melihat aurora karena langitnya sangat bersih tanpa polusi,” katanya.

Ia juga mengambil langsung sampel sedimen laut menggunakan metode coring, yaitu mengambil lapisan tanah dasar laut dengan pipa silinder panjang.

Penelitian untuk Masa Depan Lingkungan

Ezra menegaskan bahwa penelitiannya tidak hanya untuk ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk memahami perubahan lingkungan global.

“Kami ingin tahu bagaimana hewan beradaptasi di masa lalu, supaya bisa memprediksi jika terjadi perubahan lingkungan di masa depan,” jelasnya.

Ia berharap metode penelitian ini nantinya bisa diterapkan di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati jauh lebih besar.

Siap Lanjut S3 dan Kembali ke Antartika

Setelah menyelesaikan S2 pada 2025, Ezra akan melanjutkan studi doktoral di kampus yang sama mulai Mei 2026. Ia juga berambisi kembali ke Antartika untuk melanjutkan risetnya.

“Cita-cita saya jadi saintis dan bisa kembali lagi ke Antartika untuk penelitian,” ujarnya.

Kisah Ezra menjadi bukti bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing di level global, bahkan hingga ke benua paling terpencil di dunia.