SLEMAN, jogjabanget.id - Di tengah derasnya arus digital dan tekanan hidup yang semakin kompleks, banyak generasi muda—terutama Gen-Z—mengalami kegelisahan dalam mencari jati diri.
Melihat fenomena tersebut, lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menghadirkan inovasi unik yang memadukan teknologi modern dengan kearifan lokal.
Adalah Choirrunisa bersama timnya, Siti Indah Yulianti, Ajeng Ranaya Syah, Afifah Nur Hasanah, dan Anisa Zulfa Nabila, yang mengembangkan media virtual reality (VR) berbasis filosofi Jawa Sangkan Paraning Dumadi.
Di bawah bimbingan Dr. Ali Mahmudi, M.Pd, inovasi ini dirancang sebagai cara baru bagi Gen-Z untuk mengenal diri sekaligus menjaga kesehatan mental.
Choirrunisa menjelaskan, fenomena kegelisahan Gen-Z bukan sekadar data statistik. Ia dan tim melihat langsung bagaimana generasi muda sering merasa cemas, tertekan, hingga kehilangan arah di tengah tuntutan hidup yang serba cepat.
“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang dekat dengan dunia Gen-Z, tapi tetap berakar pada budaya. Virtual reality menjadi jembatan untuk itu,” ungkapnya, Selasa (24/3/2026).
Melalui teknologi VR, pengguna diajak masuk ke dalam perjalanan reflektif yang menggambarkan makna hidup, asal-usul manusia, hingga tujuan akhir kehidupan. Pengalaman ini tidak hanya bersifat visual, tetapi juga emosional, sehingga mendorong pengguna untuk merenung dan memahami dirinya lebih dalam.
Filosofi Sangkan Paraning Dumadi yang diangkat dalam riset ini mengandung nilai tentang kesadaran diri, hubungan manusia dengan alam, serta keterhubungan dengan Sang Pencipta. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membantu Gen-Z menemukan makna hidup di tengah dinamika dunia modern.
Penelitian ini juga melibatkan ratusan responden Gen-Z di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menguji efektivitas media tersebut. Hasilnya diharapkan mampu menjadi solusi praktis dalam meningkatkan mental well-being sekaligus memperkuat identitas budaya generasi muda.
Lebih dari sekadar proyek riset, karya ini menjadi bukti bahwa generasi muda mampu menghadirkan solusi yang relevan dengan zamannya tanpa melupakan akar budaya. Teknologi pun tak lagi sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana refleksi dan pembelajaran hidup.
Melalui inovasi ini, mahasiswa UNY menunjukkan bahwa menemukan jati diri tidak harus meninggalkan tradisi. Justru, proses tersebut bisa dimulai dengan memahami kembali akar budaya, dengan cara yang lebih dekat dan relevan bagi generasi masa kini.
