jogjabanget.id

WJNC ke-10 Meriahkan Malioboro, Ribuan Peserta Angkat Kisah Wayang dan Budaya Nusantara

WJNC ke-10 memeriahkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta dengan ribuan peserta, pertunjukan wayang, Gelaran Nuswantoro, dan konsep Green Event di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer. (dok. Pemkot Jogja)

WJNC ke-10 memeriahkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta dengan ribuan peserta, pertunjukan wayang, Gelaran Nuswantoro, dan konsep Green Event di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer. (dok. Pemkot Jogja)

Author
Redaksi
9 Oktober 20266 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta berubah menjadi panggung budaya terbuka saat Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) ke-10 digelar pada Rabu (7/10/2026) malam. Ribuan peserta dan masyarakat memadati rute karnaval untuk menyaksikan beragam pertunjukan seni yang menjadi puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta.

WJNC 2026 melibatkan peserta dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta serta delegasi dari sejumlah daerah, antara lain DKI Jakarta, Kota Mojokerto, Kabupaten Ponorogo, Brebes, Kota Magelang, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman.

Karnaval dimulai dari kawasan Teteg Sepur Stasiun Tugu, menyusuri Malioboro, hingga berakhir di Titik Nol Kilometer. Berbagai pertunjukan tari, musik, kostum, properti, dan kreasi visual bertema pewayangan menjadi daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan.

Penyelenggaraan tahun ini terasa istimewa karena menandai satu dekade perjalanan WJNC sejak pertama kali digelar pada 2016. WJNC 2026 juga kembali masuk dalam 10 Top Kharisma Event Nusantara (KEN).

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X, menyebut capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi Yogyakarta. Menurutnya, WJNC tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga sarana memperkenalkan tradisi dan kisah-kisah luhur kepada masyarakat.

Ribuan peserta tahun ini mengangkat tema “Gana Kalajaya”, dengan pesan “Ngelih iki kelakone kanthi laku”, yang dimaknai bahwa ilmu akan hidup apabila dijalankan.

“Para pelajar datang dari penjuru negeri untuk menimba ilmu di kota ini. Harapannya, ilmu menjadi kecakapan dan pengabdian sejalan dengan Hamemayu Hayuning Bawana, memakmurkan dan menjaga keharuman,” ujar Paku Alam X.

Ia berharap panggung WJNC dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi sekaligus membuat kisah-kisah luhur semakin dikenal dan dihayati masyarakat.

“Dengan panggung WJNC ini menjadi ruang kreasi dan keakraban,” imbuhnya.

20261008092954.jpeg

Gana Kalajaya, Pesan untuk Menghadapi Tantangan Zaman

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan WJNC menjadi puncak rangkaian peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Tema “Gana Kalajaya” yang diangkat tahun ini merupakan saduran karya Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2021.

Menurut Hasto, tema tersebut membawa pesan ora mingkuh, yakni tidak menghindar dan tidak menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan. Gana dimaknai sebagai kekuatan masyarakat, Kala sebagai tantangan zaman, sedangkan Jaya menggambarkan kejayaan bersama.

“Nilai tersebut sejalan dengan semangat HUT ke-270 Kota Yogyakarta, ‘Otentik Konkret’. Otentik berarti tetap menjaga jati diri, budaya dan nilai-nilai yang menjadi ciri Yogyakarta. Konkret berarti semua itu terus diwujudkan dalam karya, kreativitas, kolaborasi dan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelas Hasto.

Ia menegaskan, WJNC menjadi salah satu bentuk bagaimana budaya Yogyakarta terus berkembang mengikuti zaman. Wayang tetap menjadi akar pertunjukan, kemudian dipadukan dengan koreografi, musik, kostum, tata cahaya, karya visual, serta kreativitas peserta dari 14 kemantren.

“Dengan cara inilah tradisi tetap terjaga sekaligus terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman,” katanya.

WJNC 2026 juga mengusung konsep Green Event sebagai bentuk komitmen terhadap kelestarian lingkungan. Upaya tersebut diwujudkan melalui penggunaan eco costume, edukasi lingkungan, serta kepedulian terhadap kebersihan ruang kota.

“Dengan konsep ini kita ingin kemeriahan WJNC berjalan bersama dengan tanggung jawab untuk menjaga lingkungan,” ujar Hasto.

Malioboro Jadi Panggung Budaya dan Penggerak Ekonomi

Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang berlangsung di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Tugu, hingga Jalan Mangkubumi, tahun ini WJNC kembali hadir dengan rute dari Teteg Sepur Stasiun Tugu, menyusuri Malioboro, hingga Titik Nol Kilometer.

Hasto mengatakan perubahan rute tersebut diharapkan membuat WJNC semakin dekat dengan masyarakat dan dapat dinikmati lebih banyak orang.

“Dengan rute yang lebih panjang, kita ingin WJNC semakin dekat dengan masyarakat dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Malioboro malam ini menjadi panggung besar masyarakat Yogyakarta, tempat budaya, kreativitas, pariwisata dan kegiatan ekonomi bertemu,” jelasnya.

Menurut Hasto, kekuatan WJNC terletak pada keterlibatan masyarakat. Setiap kemantren membawa karya terbaik melalui pertunjukan tari, musik, kostum, properti, dan berbagai kreasi yang bersumber dari cerita pewayangan.

Sejumlah penampilan juga menampilkan atribut dan maskot yang menggambarkan identitas Kota Yogyakarta, termasuk sosok Mas JOS sebagai salah satu ikon kota.

Pemerintah Kota Yogyakarta berharap keramaian di sepanjang Malioboro hingga Titik Nol Kilometer turut memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, mulai dari UMKM, kuliner, perdagangan, jasa, perhotelan, hingga sektor ekonomi kreatif.

Hasto juga mengapresiasi seluruh peserta, seniman, budayawan, komunitas, perangkat daerah, aparat keamanan, mitra, relawan, dan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan WJNC 2026.

“Semoga WJNC terus menjadi ruang untuk menjaga warisan budaya, melahirkan kreativitas baru, serta memperkuat Yogyakarta sebagai kota budaya dan destinasi pariwisata,” ungkapnya.

Gelaran Nuswantoro Awali Puncak WJNC

Sebelum puncak WJNC digelar pada malam hari, rangkaian perayaan diawali dengan Gelaran Nuswantoro Pra-WJNC 2026 pada Rabu (7/10/2026). Kegiatan yang dilepas Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan di depan Plaza Malioboro tersebut melibatkan delegasi dari berbagai daerah di Indonesia.

Peserta yang hadir antara lain dari DKI Jakarta, Kota Mojokerto, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Brebes, Kota Magelang, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman.

Wawan mengapresiasi para delegasi yang turut memperkaya rangkaian perayaan HUT ke-270 Kota Yogyakarta melalui penampilan seni dan budaya dari daerah masing-masing.

“Kehadiran dan penampilan luar biasa saudara-saudari sekalian sangat mewarnai dan memperkuat khazanah seni dan budaya Yogyakarta dalam penyelenggaraan rangkaian WJNC kali ini,” katanya.

Menurut Wawan, keterlibatan peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa perayaan HUT Kota Yogyakarta juga menjadi ruang kolaborasi dan apresiasi terhadap kekayaan budaya Nusantara.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Muh Zandaru Budi Purwanto mengatakan Gelaran Nuswantoro dapat menjadi sarana promosi budaya dan pariwisata bagi daerah yang terlibat.

“Gelaran ini juga menjadi ajang promosi budaya dan pariwisata bagi daerahnya masing-masing, dengan tujuan meningkatkan daya tarik pariwisata,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, potensi tradisi, seni, dan destinasi wisata dari berbagai daerah diharapkan semakin dikenal masyarakat luas.

Penonton dan Penari Berharap WJNC Terus Berlanjut

Kemeriahan WJNC 2026 turut dirasakan wisatawan yang menyaksikan pertunjukan di sepanjang rute karnaval. Salah satunya Sari, yang mengaku senang dapat kembali menikmati WJNC setelah terakhir menyaksikannya pada 2024.

“Melihat WJNC lagi setelah tahun 2024 sangat seru. Saya bersama teman-teman berharap Kota Yogyakarta semakin jaya dan selalu istimewa,” katanya.

Antusiasme juga dirasakan para peserta yang telah mempersiapkan penampilan selama berminggu-minggu. Risma, salah satu penari dari Kemantren Tegalrejo, mengatakan persiapan dilakukan melalui latihan intensif selama sekitar satu bulan.

“Kami latihan kurang lebih satu bulan. Semoga penampilan hari ini bisa maksimal dan WJNC tetap dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.

Dengan keterlibatan komunitas, seniman, masyarakat, dan delegasi dari berbagai daerah, WJNC ke-10 menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus membuka ruang kreativitas baru. Perayaan ini diharapkan tidak hanya meninggalkan kemeriahan pertunjukan, tetapi juga memberikan manfaat bagi pariwisata dan perekonomian masyarakat Yogyakarta.