YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Aktivitas Gunung Merapi kembali meningkat pada Selasa (7/4/2026) siang. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadinya awan panas guguran yang meluncur sejauh 1.800 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan awan panas tersebut terjadi pada pukul 14.42 WIB dengan amplitudo maksimum 17,7 mm dan durasi sekitar 106 detik. Fenomena ini menjadi salah satu indikator masih aktifnya suplai magma di dalam tubuh Merapi.

“Terjadi awan panas guguran dengan estimasi jarak luncur 1.800 meter mengarah ke barat daya atau Kali Boyong,” ujarnya.

Selain awan panas, aktivitas guguran lava juga masih cukup intens. Dalam periode pengamatan, BPPTKG mencatat puluhan kali guguran serta beberapa kali lava pijar meluncur ke arah Kali Krasak dengan jarak maksimal 1.300 meter.

Di sisi lain, kondisi cuaca turut meningkatkan potensi bahaya. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur lereng barat daya Merapi sejak pukul 13.32 WIB. Curah hujan tercatat mencapai 15,10 mm dengan durasi lebih dari satu jam.

“Hujan masih berlangsung, sehingga masyarakat perlu mewaspadai potensi awan panas guguran dan banjir lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di Merapi,” kata Agus.

BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya, khususnya di sepanjang alur sungai seperti Kali Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng. Potensi bahaya guguran lava dan awan panas diperkirakan dapat menjangkau hingga 5–7 kilometer dari puncak, tergantung sektor.

Saat ini, status aktivitas Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran sewaktu-waktu.

“Masyarakat diimbau menjauhi daerah bahaya dan mematuhi seluruh rekomendasi resmi,” tegasnya.

Selain itu, warga juga diminta mengantisipasi dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari apabila terjadi erupsi lebih lanjut.