Veda Ega Target Konsisten, Mario Aji Bangkit dari Cedera Saat Temui Fans di Jogja
Ratusan penggemar memadati Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta untuk bertemu Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji. Keduanya berbagi kisah perjuangan menuju MotoGP sekaligus menargetkan hasil terbaik di paruh kedua musim Grand Prix 2026. (dok. jogjabanget)
YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Suasana kawasan Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, dipenuhi ratusan penggemar balap motor saat dua pembalap kebanggaan Indonesia, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji, hadir dalam agenda Fan Meet Local Heroes Indonesia sebagai bagian dari rangkaian Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Minggu (19/7/2026) malam.
Kedatangan pembalap Moto3 dan Moto2 tersebut menjadi momen spesial bagi para pecinta MotoGP di Yogyakarta. Selain berfoto dan menyapa penggemar, keduanya juga berbagi cerita mengenai perjalanan karier, tantangan di lintasan balap dunia, hingga target menghadapi paruh kedua musim Grand Prix 2026.
Mario Suryo Aji mengungkapkan kecintaannya terhadap dunia balap sudah tumbuh sejak usia lima tahun berkat sang ayah yang juga merupakan mantan pembalap.
"Dulu ayah juga pembalap, jadi dikenalkan dunia balap sejak kecil. Kalau sehari tidak naik motor saya sampai menangis. Saya mulai dari motocross sejak umur lima tahun," ujar Mario.
Ia mengaku sempat mengalami patah tulang paha saat berusia delapan tahun. Namun cedera tersebut tidak menghentikan mimpinya menjadi pembalap profesional.
"Saya sempat patah tulang di bagian paha, lalu berhenti sebentar dan akhirnya pindah ke road race. Sampai sekarang masih terus balapan," katanya.
Sementara itu, Veda Ega Pratama mengaku memiliki kisah yang hampir serupa. Pembalap asal Gunungkidul itu juga mengenal dunia balap melalui ayahnya yang merupakan mantan pembalap.
"Saya beberapa kali ikut ayah latihan dan menonton balapan. Dari situ saya jadi ingin menjadi pembalap. Saya mulai dari motocross, lalu sekitar umur delapan atau sembilan tahun pindah ke road race," tutur Veda.
Perjalanan karier Veda kemudian berkembang pesat. Ia memulai kompetisi di Asia Talent Cup pada 2022, berlanjut ke Red Bull Rookies Cup, hingga akhirnya menembus kelas Moto3 musim ini.
Fokus Tingkatkan Konsistensi
Memasuki paruh kedua musim Grand Prix 2026, Veda mengaku masih terus belajar menghadapi kerasnya persaingan di level dunia.
"Musim pertama ini masih banyak belajar. Kadang hasilnya bagus, kadang juga jatuh atau kurang maksimal. Setelah summer break saya ingin lebih konsisten karena ini tahun pertama saya di Moto3," ujarnya.
Ia juga menyebut jeda kompetisi dimanfaatkan untuk menjalani latihan intensif di Sirkuit Mandalika sebelum balapan kandang Pertamina Grand Prix of Indonesia pada Oktober mendatang.
"Besok kami latihan dua hari di Mandalika. Balapan di Indonesia nanti tentu spesial karena kami tampil di depan pendukung sendiri," katanya.
Mario pun mengakui musim 2026 bukan perjalanan yang mudah. Cedera membuatnya harus melewatkan beberapa seri balapan.
"Awal musim cukup sulit karena cedera sehingga harus melewatkan lima sampai enam balapan. Tapi dari situ saya belajar bagaimana bangkit lagi. Sekarang kecepatan kami sudah cukup kompetitif, tinggal bagaimana mengeksekusi balapan hari Minggu dengan lebih baik," jelas Mario.
Dukungan Fans Jadi Motivasi
Komisaris Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), RM Gustilantika Marrel Suryokusumo, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar melahirkan pembalap kelas dunia karena didukung jumlah generasi muda yang sangat banyak.
Menurut cucu pertama Sri Sultan Hamengku Buwono X itu, keberhasilan Veda dan Mario harus menjadi inspirasi sekaligus alasan bagi masyarakat untuk terus memberikan dukungan.
"Potensi pembalap Indonesia sangat besar. Kita sudah membuktikan dengan hadirnya Veda dan Mario di level tertinggi balap motor dunia. Yang penting prosesnya terus berjalan dan mental mereka tetap kuat," ujarnya.
Ia mengajak masyarakat memberikan dukungan tanpa melihat hasil balapan semata.
"Sebagai warga Indonesia kita harus datang langsung memberi dukungan. Jangan hanya mendukung saat mereka menang, tetapi juga ketika mereka sedang berjuang," katanya.
Terkait wacana pembangunan sirkuit di daerah, termasuk di DIY, Marrel menyebut pihaknya masih memfokuskan pengembangan Sirkuit Mandalika sebagai pusat motorsport nasional.
"Saat ini kami masih fokus mengoptimalkan Mandalika. Kalau daerah lain ingin membangun fasilitas latihan tentu bagus, tetapi semuanya perlu kajian yang matang," pungkasnya. (ak)

