YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Di tengah hiruk pikuk Pasar Kangen yang penuh nuansa nostalgia, ada satu sudut yang menarik perhatian. Bukan sekadar kuliner atau barang lawas, melainkan praktik membaca kartu tarot dengan sentuhan budaya Jawa: tarot wayang.
Adalah Al’manye T.Y, seorang konsultan spiritual yang menghidupkan kembali filosofi pewayangan melalui media kartu tarot. Berbeda dari tarot pada umumnya, ia menggunakan kartu tarot wayang—satu-satunya kartu tarot khas Indonesia yang telah diakui di dunia pertarotan.
“Secara jumlah dan cara membaca sebenarnya sama, tetap 76 kartu. Bedanya ada di simbol dan tokohnya yang menggunakan pewayangan,” ungkapnya kepada jogjabanget.id, Minggu (29/3/2026).
Dalam kartu tersebut, setiap tokoh wayang memiliki makna mendalam. Misalnya, tokoh Sengkuni yang dikenal licik, digunakan untuk merepresentasikan tipu muslihat dalam kehidupan. Filosofi ini menjadi jembatan antara nilai budaya Jawa dengan interpretasi modern tentang kehidupan.
Bagi Al’manye, penggunaan wayang bukan sekadar estetika. Ia merasa lebih mudah “menghayati” pembacaan tarot melalui tokoh-tokoh yang dekat dengan budaya Jawa.
“Orang Jawa sekarang pun banyak yang sudah tidak paham weton atau pasaran. Makanya saya memilih tarot sebagai media yang lebih universal,” ujarnya.
Sebelum mendalami tarot, ia mengaku menggunakan metode tradisional seperti weton dan pawukon. Namun, keterbatasan pemahaman klien—terutama dari luar Jawa—membuatnya beralih ke pendekatan yang lebih mudah diterima lintas budaya.
Menariknya, praktik tarot ini tidak melulu soal “ramalan”. Banyak klien datang untuk refleksi diri, mulai dari mahasiswa yang mempertanyakan masa depan hingga pelaku usaha yang mencari arah bisnis.
Salah satu pengunjung, Vincentius Christian Andri Dustira, mengaku mencoba tarot untuk pertama kalinya bersama sang istri.
“Tadi tanya soal kerjaan, karier, sama hubungan. Banyak yang relate sih,” terangnya.
Ia menilai pengalaman tersebut cukup positif dan membuka perspektif baru tentang dirinya.
Di sisi lain, pengunjung lain seperti Krisna Dewi justru melihat kehadiran tenant seperti ini menambah warna Pasar Kangen yang kini semakin merambah wilayah selatan Jogja.
Fenomena tarot wayang ini menjadi bukti bahwa tradisi bisa beradaptasi dengan zaman. Di tangan generasi baru, budaya tak hanya dilestarikan, tetapi juga dikemas ulang agar lebih relevan dengan kehidupan modern.
Bukan sekadar membaca masa depan, tarot wayang justru mengajak orang untuk memahami diri sendiri—melalui cerita-cerita lama yang tetap hidup hingga hari ini.


