Jelang Iduladha, Sapi Madura dan PO Jadi Primadona Pasar Kurban di Yogyakarta

Menjelang Iduladha 1447 H, stok hewan kurban di Kota Yogyakarta dipastikan aman. Pemkot memperketat pengawasan kesehatan ternak, sementara harga sapi mengalami kenaikan hingga Rp2 juta per ekor. (dok. Pemda DIY)
YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, permintaan hewan kurban di Kota Yogyakarta mulai meningkat. Sapi jenis Madura dan Peranakan Ongole (PO) disebut menjadi primadona masyarakat karena dinilai sesuai dari sisi harga maupun kelayakan umur kurban.
Pemilik UD Segar Farm, Sudiharsoyo, mengatakan sapi dengan kisaran harga Rp23 juta hingga Rp25,5 juta paling banyak diminati pembeli. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pihaknya mendatangkan sapi dari Madura dan Bali karena sapi lokal dengan harga serupa umumnya belum memenuhi syarat umur kurban.
“Sapi yang sekarang diminati itu di harga Rp23 juta sampai Rp25,5 juta. Untuk harga segitu kami banyak mendatangkan sapi Madura. Kalau sapi lokal biasanya umur belum mencukupi, jadi sulit dijual di kisaran harga itu,” ujar Sudiharsoyo saat ditemui di UD Segar Farm, Pakuncen, Wirobrajan, Jumat (8/5/2026).
Saat ini, kandangnya menampung sekitar 92 ekor sapi. Namun stok diperkirakan akan bertambah hingga 250-300 ekor menjelang puncak penjualan Iduladha.
Menurutnya, sapi jenis limosin juga cukup diminati, terutama untuk pembeli dengan anggaran lebih besar. Harga sapi limosin berkisar Rp25 juta hingga Rp30 juta per ekor, dengan bobot hidup mulai 500 kilogram hingga lebih dari 900 kilogram.
“Kalau yang paling diminati tetap sapi limosin, tapi untuk harga di bawah Rp25 juta biasanya larinya ke sapi Madura. Kalau dana lebih, masyarakat pilih sapi lokal atau limosin,” jelasnya.
Sudiharsoyo memperkirakan penjualan tahun ini sedikit menurun dibanding tahun lalu. Pada Iduladha 2025, pihaknya berhasil menjual 302 ekor sapi, sedangkan tahun ini diproyeksikan berada di angka 250 ekor.
Ia menyebut kenaikan harga sapi kurban tahun ini mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu dipengaruhi kenaikan harga karkas daging di pasaran.
“Tahun lalu harga karkas Rp90 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp102 ribu. Jadi otomatis harga sapi ikut naik,” katanya.
Meski begitu, lonjakan penjualan biasanya baru terasa pada H-7 Iduladha. Banyak pelanggan memilih membeli mendekati hari penyembelihan karena berharap harga lebih murah.
“Biasanya pelanggan cari hari-hari terakhir. Kalau mendekati hari H memang biaya perawatan kami lebih sedikit, jadi harga bisa lebih kompetitif,” ujarnya.
Terkait kesehatan ternak, Sudiharsoyo memastikan seluruh sapi yang dijual telah melalui pemantauan rutin dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta. Pemeriksaan dilakukan dua pekan sekali, termasuk pengecekan fisik dan administrasi kesehatan hewan.
“Setiap sapi yang dikirim ke panitia nanti wajib ada surat dari dinas. Kalau ada yang sakit atau cacat, pasti kami ganti. Itu garansi kami,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, memastikan stok hewan kurban di Kota Yogyakarta aman meski sebagian besar pasokan berasal dari luar daerah.
“Seluruh hewan yang masuk wajib membawa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan sertifikat veteriner. Kalau secara fisik tidak sehat, langsung kami tolak masuk ke Kota Yogyakarta,” kata Sukidi.
Ia menambahkan, pengawasan kesehatan hewan akan diperketat menjelang Iduladha melalui pemeriksaan antemortem dan postmortem di seluruh titik pemotongan.
“Tahun lalu kami menerjunkan 135 petugas gabungan dari dinas, dokter hewan, relawan UGM, dan provinsi. Tahun ini skemanya hampir sama untuk memastikan hewan sehat dan aman dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya.
Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan DPP Kota Yogyakarta, Sri Panggarti, menambahkan, seluruh pedagang di pasar tiban wajib mengantongi izin dari kemantren dan rekomendasi kelurahan, serta memastikan lingkungan tetap bersih dan hewan tidak stres selama masa penjualan.
Dengan pengawasan ketat tersebut, Pemkot Yogyakarta optimistis kebutuhan hewan kurban masyarakat terpenuhi dan kualitas ternak tetap terjaga hingga Hari Raya Iduladha tiba.

