jogjabanget.id

Hasil Penelitian UGM: Kebakaran Misterius di Seyegan Tidak Dipicu Fenomena Alam

Tim peneliti Fakultas Teknik UGM menyimpulkan fenomena Rumah Api Seyegan bukan disebabkan rembesan gas alam maupun gejala alam. Penelitian menemukan residu PVC pada area kebakaran yang diduga berkaitan dengan material mudah terbakar. (dok. jogjabanget.id)

Tim peneliti Fakultas Teknik UGM menyimpulkan fenomena Rumah Api Seyegan bukan disebabkan rembesan gas alam maupun gejala alam. Penelitian menemukan residu PVC pada area kebakaran yang diduga berkaitan dengan material mudah terbakar. (dok. jogjabanget.id)

Author
Redaksi
14 Juni 2026 pukul 01.433 menit baca

SLEMAN, jogjabanget.id - Misteri fenomena kebakaran berulang atau yang dikenal sebagai "Rumah Api Seyegan" di Kabupaten Sleman mulai menemukan titik terang. Tim peneliti dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menyimpulkan bahwa kebakaran yang terjadi bukan disebabkan oleh rembesan gas alam dari bawah tanah maupun fenomena alam yang memicu api menyala sendiri.

Kesimpulan tersebut disampaikan dalam konferensi pers hasil penelitian lanjutan yang digelar di Fakultas Teknik UGM, Sabtu (13/6/2026).

Ketua Tim Peneliti PKPE FT UGM, Alva Edy Tontowi, mengatakan tim telah melakukan berbagai pengujian mulai dari pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah permukaan menggunakan georadar dan geolistrik, pengukuran kandungan gas, hingga analisis residu kebakaran menggunakan metode Gas Chromatography (GC) dan Fourier Transform Infrared (FTIR).

"Berdasarkan hasil penelitian ini, medan elektromagnetik terukur pada level aman yang berarti bukan pemantik nyala api, sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan, tidak ada anomali termal, dan tidak ditemukan gas yang dapat menyala sendiri secara alami pada suhu kamar," ungkapnya.

Tim peneliti sebelumnya sempat mendeteksi adanya gas hidrogen di sekitar lokasi kebakaran. Namun setelah dilakukan penelitian lanjutan, temuan tersebut ternyata berkaitan dengan fenomena cross sensitivity pada alat pendeteksi gas.

Melalui analisis FTIR terhadap sampel residu kebakaran yang diambil dari dinding keramik, kayu, dan tripleks, tim menemukan kandungan polyvinyl chloride (PVC) yang tidak lazim berada di permukaan material tersebut.

Anggota tim peneliti dari Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi, menjelaskan bahwa residu PVC ditemukan pada area yang terbakar dan diduga berasal dari material yang sebelumnya bercampur dengan pelarut atau solvent mudah terbakar.

"Kami selesai pada tahap menemukan sumber dari api. Sekali lagi bukan gas alami, tetapi ada satu matriks substansi yang ditemukan sebagai residu di tempat terbakar yaitu residu dari polyvinyl chloride atau PVC," kata Sarju.

Menurutnya, ketika PVC terbakar akan menghasilkan gas hidrogen klorida yang dapat terbaca sebagai gas hidrogen oleh alat pendeteksi tertentu.

"Residu PVC ditemukan di tempat-tempat yang terbakar seperti dinding, tripleks, dan kayu. Di lokasi yang tidak terbakar kami tidak menemukan residu tersebut," ujarnya.

Meski demikian, tim peneliti menegaskan belum menyimpulkan penyebab awal munculnya api maupun sumber pemantik kebakaran tersebut.

"Kalau tidak dipantik dia tidak akan terbakar. Nah pemantiknya apa, itu nanti akan ditindaklanjuti BPBD," papar Sarju.

WhatsApp Image 2026-06-14 at 08.42.37.jpeg

Tidak Ditemukan Sumber Gas Alam

Penelitian juga melibatkan pemetaan bawah permukaan menggunakan teknologi georadar dan geolistrik. Hasilnya menunjukkan tidak ditemukan lapisan batuan yang berpotensi menjadi sumber gas alam di bawah rumah yang mengalami kebakaran.

Peneliti Teknik Geologi UGM, Saptono Budi Samodra, mengatakan retakan tanah yang sempat ditemukan di sekitar lokasi juga tidak berkaitan dengan keberadaan gas.

"Dari hasil analisis kami, retakan itu hanya retakan, jadi tidak ada gas di dalamnya," bebernya.

Selain itu, pengamatan menggunakan drone dan sensor thermal infrared hingga radius 200 meter dari lokasi kejadian juga tidak menunjukkan adanya anomali panas yang dapat menjelaskan munculnya api secara alami.

Dengan berbagai temuan tersebut, tim PKPE FT UGM menyatakan penelitian mengenai fenomena Rumah Api Seyegan telah selesai dan hasilnya diserahkan kepada BPBD Sleman untuk ditindaklanjuti.

"Hasil penelitian berbagai disiplin ini menunjukkan bahwa sumber api bukan rembesan gas alam, tetapi ada material mudah terbakar yang ditemukan di lokasi kejadian," tegas Saptono.

Investigasi lanjutan kini berada di tangan BPBD Sleman untuk menelusuri sumber material tersebut serta kemungkinan pemantik yang menyebabkan kebakaran berulang di rumah tersebut.