YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di Bangsal Kepatihan, Senin (30/3/2026). Ribuan warga memadati lokasi untuk mengikuti silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah sekaligus peringatan Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Sejak pagi, antrean panjang sudah mengular. Mereka datang dari berbagai daerah, dengan satu tujuan yang sama, yaitu bersalaman langsung dengan Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Bagi sebagian warga, momen ini bukan sekadar tradisi, tetapi pengalaman yang sulit tergantikan.
Swasono Mulyo, warga Banguntapan, mengaku sudah menunggu sejak jauh hari untuk bisa hadir.
“Pengin saja ketemu Sultan, kapan lagi. Biasanya setahun sekali,” ungkapnya.
Meski tak merasakan hal “mistis”, ia tetap percaya ada nilai berkah dalam pertemuan tersebut.
Di sisi lain, pengalaman berbeda dirasakan rombongan siswa disabilitas dari SLB 1 Jogja yang datang bersama guru mereka, Sunarti. Ini menjadi kali pertama mereka bertemu langsung dengan Sultan dan Paku Alam X.
“Anak-anak senang, ada yang deg-degan. Tadi juga dapat prioritas akses, dibantu sampai ke atas,” kata Sunarti.
Pelayanan yang ramah dan akses khusus bagi penyandang disabilitas menjadi salah satu hal yang diapresiasi dalam acara ini, meski ke depan diharapkan bisa terus ditingkatkan.
Tak hanya warga lokal, generasi muda juga turut meramaikan. Salsabila, mahasiswa asal Kotagede, mengaku penasaran setelah melihat ramainya acara di media sosial.
“Pengen sowan juga. Tadi antre sekitar dua jam, tapi senang bisa ketemu langsung,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keberadaan ratusan pelaku UMKM yang menyediakan makanan gratis bagi pengunjung.
“Ini keren banget, bisa ngumpulin masyarakat sekaligus mendukung UMKM,” terangnya.
Hal serupa dirasakan Fitri Rokhman yang baru pertama kali ikut dalam 30 tahun hidupnya.
“Happy banget, ini momen spesial. Bisa ketemu orang nomor satu di DIY,” tuturnya.
Di balik kemeriahan tersebut, geliat ekonomi juga terasa kuat. Ribuan porsi makanan disiapkan oleh pelaku UMKM, mulai dari soto, jenang, hingga angkringan.
Tia (30), salah satu pedagang soto, mengaku menyediakan hingga 4.000–5.000 porsi makanan secara gratis.
“Kami senang sekali bisa dilibatkan. Ini kesempatan besar bagi UMKM,” ucapnya.
Sementara itu, Parjono (50), pedagang angkringan asal Gunungkidul, menyebut timnya menyiapkan sekitar 18 angkringan dengan ribuan item makanan.
“Dampaknya besar sekali, karena kami juga melibatkan banyak UMKM lain untuk memenuhi kebutuhan ini,” jelasnya.
Baginya, keterlibatan dalam acara ini menjadi pengalaman berharga sekaligus bukti bahwa kegiatan budaya mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Di tengah suasana Lebaran, Jogja kembali menunjukkan wajahnya yang hangat, guyub, sederhana, dan penuh makna.



