708 Siswa SD Gunungkidul Ikuti Program Pembelajaran Kreatif, Guru dan Orang Tua Ikut Dilatih
OREO resmi meluncurkan program OREO Berbagi Seru di Gunungkidul untuk mendukung Program Bocah Pinter. Sebanyak 708 siswa SD menerima pembelajaran interaktif melalui pendekatan belajar sambil bermain bersama Indonesia Mengajar. (dok. jogjabanget)
GUNUNGKIDUL, jogjabanget.id - Sebanyak 708 siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Gunungkidul mendapatkan kesempatan mengikuti program pembelajaran kreatif yang mengedepankan metode belajar sambil bermain (playful learning). Tidak hanya menyasar peserta didik, program ini juga melibatkan guru, orang tua, hingga komunitas sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih berkualitas.
Program yang diluncurkan bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional tersebut mendukung visi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI tentang Pendidikan Bermutu untuk Semua, sekaligus sejalan dengan program Bocah Pinter yang tengah dijalankan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.
Kegiatan dipusatkan di SD Negeri Mentel 1, Gunungkidul, dengan menggandeng Indonesia Mengajar sebagai mitra pelaksana. Sebanyak 270 alat pembelajaran interaktif disalurkan untuk menunjang proses belajar 708 siswa SD di wilayah tersebut.
Mewakili Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Kabupaten Gunungkidul, Supriyanto, mengatakan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak.
"Hari ini kita menyaksikan bagaimana semangat gotong royong diwujudkan melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, para guru, orang tua dan masyarakat untuk menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Gunungkidul. Kami menyambut baik pendekatan belajar sambil bermain yang diusung dalam program ini," ujarnya.
Menurutnya, bantuan alat pembelajaran yang diberikan kepada sekolah-sekolah di Gunungkidul diharapkan mampu dimanfaatkan secara optimal sehingga semakin banyak anak memperoleh kesempatan belajar yang berkualitas.
Supriyanto juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
"Guru menjadi inspirasi di sekolah, orang tua menjadi pendamping utama di rumah, masyarakat menciptakan lingkungan yang positif, sementara dunia usaha hadir melalui tanggung jawab sosial yang memberikan manfaat nyata bagi kemajuan pendidikan," katanya.
Program ini mengembangkan 15 alat pembelajaran interaktif yang mencakup bidang literasi, numerasi, sains, dan bahasa Inggris. Seluruh materi dirancang menggunakan pendekatan belajar sambil bermain yang diselaraskan dengan kurikulum nasional serta prinsip deep learning, sehingga proses belajar menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna.
Selain mendistribusikan alat belajar, penyelenggara juga menggelar School Roadshow selama 22–25 Juli 2026. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 35 guru, 70 orang tua, dan 35 anggota komunitas mengikuti pelatihan mengenai metode pembelajaran kreatif yang dapat diterapkan baik di sekolah maupun di rumah.
Senior Marketing Manager Biscuit Mondelēz Indonesia, Kevin Stefano, menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan membantu pemerataan pendidikan berkualitas, terutama di wilayah 3T dan daerah marginal.
"Kami berharap lebih banyak anak Indonesia memiliki kesempatan setara untuk berkembang menjadi Generasi SERU yang mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah perubahan dunia yang semakin pesat," ujar Kevin.
Menurutnya, metode pembelajaran yang menyenangkan mampu mendorong anak lebih mudah memahami materi sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan bekerja sama.
Salah seorang guru SD Negeri Mentel 1, Endah Setyorini, mengaku pelatihan tersebut memberikan banyak inspirasi baru dalam proses belajar mengajar.
"Kami mendapatkan banyak inspirasi baru untuk menghadirkan proses belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan, di mana anak-anak bisa belajar sambil bermain, berdiskusi, dan mengeksplorasi ide-ide mereka," tuturnya.
Sementara itu, perwakilan orang tua siswa, Suryani, mengaku semakin memahami pentingnya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah.
"Saya jadi terinspirasi membuat alat belajar menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah. Semoga anak saya semakin semangat belajar, berani mencoba hal-hal baru, dan menikmati proses belajarnya," katanya.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan lahir lebih banyak anak-anak Gunungkidul yang memiliki karakter Solutif, Eksploratif, Responsif, dan Unggul (SERU), sekaligus memperkuat program Bocah Pinter sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Gunungkidul.
Hingga akhir tahun 2026, program ini ditargetkan menjangkau 7.000 siswa di tujuh provinsi di Indonesia melalui distribusi alat pembelajaran interaktif dan pelatihan bagi guru, orang tua, serta komunitas pendidikan.

