jogjabanget.id

Lewat Drama Musikal “Sang Garuda dan 9 Bidadari”, Omah Dongeng Srikandi Ajak Anak Kembali Mengenal Nilai Luhur Nusantara

Omah Dongeng Srikandi meluncurkan drama musikal dan pameran "Sang Garuda dan 9 Bidadari" di TBY Yogyakarta. Pertunjukan ini mengangkat dongeng sebagai media edukasi untuk menanamkan nilai luhur dan semangat ilmu pengetahuan kepada generasi muda. (dok. jogjabanget)

Omah Dongeng Srikandi meluncurkan drama musikal dan pameran "Sang Garuda dan 9 Bidadari" di TBY Yogyakarta. Pertunjukan ini mengangkat dongeng sebagai media edukasi untuk menanamkan nilai luhur dan semangat ilmu pengetahuan kepada generasi muda. (dok. jogjabanget)

Author
Redaksi
9 Juli 2026 pukul 17.494 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Gedung Militaire Societeit Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dipenuhi semangat seni dan edukasi saat Drama Musikal dan Pameran Wayang Dongeng "Sang Garuda dan 9 Bidadari" resmi disuguhkan, Kamis (9/7/2026) malam. 

Produksi yang diinisiasi Omah Dongeng Srikandi ini menjadi perpaduan pertunjukan teater, musik, tari, dan pameran visual yang mengangkat nilai-nilai luhur melalui media dongeng.

Pementasan berdurasi sekitar 75 menit tersebut menghadirkan kolaborasi antara pelajar mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi bersama para seniman panggung senior. Berbagai adegan dikemas ringan dan menghibur, termasuk sisipan lagu-lagu populer yang dekat dengan keseharian anak muda hingga kemunculan tokoh antagonis Sanca yang berupaya menghasut para siswa.

Didukung tata cahaya yang megah, kostum penuh warna, musik yang dinamis, serta akting para pemain, pertunjukan berhasil menghidupkan kisah Sang Garuda sebagai simbol perjuangan meraih ilmu pengetahuan.

Penanggung Jawab Program, Atikawati, mengatakan pementasan dan pameran ini merupakan karya kreatif hasil produksi Dana Indonesiana 2025 yang menggabungkan hiburan sekaligus pendidikan karakter.

"Hari ini kami meluncurkan pameran dan drama musikal Sang Garuda dan Sembilan Bidadari. Ini merupakan karya kreatif inovatif yang kami hadirkan sebagai media edukasi sekaligus hiburan," ujar Atikawati.

Drama Musikal Sang Garuda di TBY_02.JPG

Menurutnya, cerita yang diangkat berpusat pada tokoh Garuda yang berjuang memperoleh wahyu Prajñāpāramitā atau ilmu pengetahuan demi menyelamatkan sebuah negeri yang dilanda "virus kebodohan".

"Yang ingin kami sampaikan adalah pendidikan menjadi kunci mutlak menuju Indonesia Emas. Tidak ada hal yang bisa ditawar selain itu," katanya.

Adaptasi Dongeng Nusantara

Atikawati menjelaskan kisah Sang Garuda dan Sembilan Bidadari merupakan adaptasi dari cerita Garuda dalam tradisi dongeng Bali yang kemudian dikembangkan menjadi cerita orisinal Omah Dongeng Srikandi.

Dalam versi ini, Garuda tidak hanya dikenal sebagai tokoh pewayangan, tetapi juga digambarkan sebagai pelindung sekaligus penggerak anak-anak Nusantara untuk mencintai ilmu pengetahuan.

"Kami mengadaptasi kisah Garuda dari Bali, kemudian mengembangkannya menjadi cerita baru bahwa Sang Garuda menjadi pelindung dan penggerak bagi anak-anak Indonesia," jelasnya.

Libatkan Pelajar hingga Guru

Produksi drama musikal ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari seniman muda Yogyakarta, pelajar SD hingga mahasiswa, serta para pendidik.

"Pemainnya terdiri dari pelajar mulai SD sampai perguruan tinggi. Sementara pemain dewasa didominasi para pengajar, mulai guru hingga dosen," tutur Atikawati.

Selain pementasan, pengunjung juga dapat menikmati 22 karya dalam pameran wayang dongeng yang memvisualisasikan karakter Sang Garuda dan sembilan bidadari.

Menurut Atikawati, karya tersebut nantinya tidak hanya dipamerkan, tetapi juga akan menjadi media interaktif mendongeng di sekolah-sekolah.

"Kami memang berkonsentrasi di dunia dongeng. Figur-figur ini nantinya akan terus digunakan sebagai media interaktif untuk mendongeng kepada anak-anak SD," terangnya.

Dongeng Harus Relevan dengan Zaman

Atikawati menilai dongeng tetap relevan di tengah perkembangan teknologi, asalkan disampaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter anak masa kini.

Ia bahkan menilai sejumlah dongeng yang berkembang selama ini perlu dimaknai kembali agar mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan sekadar memperkuat mitos.

"Dongeng memiliki sisi yang sangat dinamis untuk masuk ke masa lalu sekaligus berbicara kepada masa depan," ucapnya.

Ia mencontohkan kisah Roro Jonggrang yang selama ini identik dengan cerita pembangunan Candi Prambanan oleh jin.

Drama Musikal Sang Garuda di TBY_01.JPG

"Ketika anak melihat Prambanan, jangan hanya berpikir bangunan itu dibuat jin. Yang ingin kami bangun adalah rasa ingin tahu, bagaimana teknologi dan ilmu pengetahuan pada masa itu mampu menghasilkan bangunan luar biasa seperti Prambanan," bebernya.

Ditargetkan Tur ke Berbagai Kota

Drama musikal ini dipersiapkan selama sekitar tiga bulan dengan konsep yang memungkinkan dipentaskan di berbagai daerah.

Atikawati mengatakan setelah tampil perdana di Yogyakarta, pihaknya berharap produksi tersebut dapat melakukan tur ke sejumlah kota seperti Solo, Bandung, dan Jakarta.

"Kami memilih format drama musikal karena harapannya karya ini bisa diterima anak-anak di seluruh Indonesia dan nantinya dapat melakukan tur ke berbagai kota," pungkasnya.

Melalui perpaduan seni pertunjukan, musik, dan pameran visual, Sang Garuda dan 9 Bidadari tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang mengajak anak-anak mengenal kembali jati diri, nilai luhur budaya, serta pentingnya ilmu pengetahuan sebagai bekal menuju masa depan. (ak)

Lewat Drama Musikal “Sang Garuda dan 9 Bidadari”, Omah Dongeng Srikandi Ajak Anak Kembali Mengenal Nilai Luhur Nusantara — jogjabanget.id