jogjabanget.id

Lebaran Seni Kembali ke Jogja, ARTJOG 2026 Fokus pada Regenerasi dan Kolaborasi Seni

ARTJOG 2026 akan berlangsung pada 19 Juni–30 Agustus 2026 di Jogja National Museum. Mengusung tema Ars Longa: Generatio, festival seni rupa kontemporer ini menghadirkan dialog antar generasi, puluhan seniman, serta berbagai program seni, edukasi, dan inklusivitas. (dok. ARTJOG 2024)

ARTJOG 2026 akan berlangsung pada 19 Juni–30 Agustus 2026 di Jogja National Museum. Mengusung tema Ars Longa: Generatio, festival seni rupa kontemporer ini menghadirkan dialog antar generasi, puluhan seniman, serta berbagai program seni, edukasi, dan inklusivitas. (dok. ARTJOG 2024)

Author
Redaksi
12 Juni 2026 pukul 08.224 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Festival seni rupa kontemporer ARTJOG kembali hadir di Yogyakarta pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026. Bertempat di Jogja National Museum (JNM), perhelatan seni tahunan yang dikenal sebagai “Lebaran Seni” ini mengusung tema besar Ars Longa: Generatio, sebagai pembuka trilogi kuratorial ARTJOG periode 2026–2028.

Tahun ini ARTJOG menggandeng Farah Wardani sebagai kurator baru yang akan memimpin arah kuratorial selama tiga tahun ke depan melalui tema besar Ars Longa Trilogia atau “Trilogi Seni Itu Panjang”. Tema tersebut dipilih untuk menegaskan bahwa seni selalu relevan dan terus berkembang mengikuti perubahan sosial, budaya, maupun politik dari generasi ke generasi.

CEO ARTJOG, Heri Pemad, mengatakan bahwa konsep Ars Longa berangkat dari keyakinan bahwa seni tidak pernah berhenti pada satu zaman maupun satu generasi.

“Ars Longa berarti seni itu panjang. Tema ini dipilih karena seni selalu hadir dan terus berdialog dengan berbagai perubahan zaman. Seni tidak berhenti pada satu generasi, tetapi terus diwariskan, dipelajari, dan dikembangkan,” ujar Heri Pemad dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Sebagai seri pertama trilogi tersebut, tema Generatio secara khusus menyoroti hubungan antar generasi dalam praktik seni. ARTJOG ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan seniman senior, seniman muda, hingga generasi anak-anak dalam satu ekosistem kreatif yang saling terhubung.

Untuk menerjemahkan gagasan tersebut, ARTJOG menunjuk Roby Dwi Antono sebagai seniman komisi. Karyanya akan hadir dalam bentuk instalasi fasad, patung, serta ruang imersif yang menjadi salah satu daya tarik utama pameran tahun ini.

Selain itu, ARTJOG 2026 akan menampilkan karya dari 25 seniman undangan, baik individu maupun kolektif, serta 19 seniman muda berusia maksimal 35 tahun yang lolos seleksi terbuka. Program ARTJOG Kids juga kembali digelar dengan menghadirkan karya dari 52 anak dan remaja berusia 6 hingga 15 tahun.

“Keberadaan seniman muda dan anak-anak menjadi bagian penting dari gagasan Generatio. Kami ingin menunjukkan bahwa perkembangan seni berlangsung melalui proses belajar, berbagi pengalaman, dan kolaborasi antar generasi,” kata Heri.

Dalam penyelenggaraannya, tema Ars Longa: Generatio dibangun melalui dua pendekatan utama yakni Dialogus dan Practica. Pendekatan Dialogus menitikberatkan pada dialog lintas generasi melalui karya-karya kolaboratif, sementara Practica menghadirkan praktik seni individual yang merepresentasikan beragam isu, semangat zaman, dan perkembangan wacana kontemporer.

Tak hanya pameran utama, ARTJOG juga kembali menghadirkan Chapter Jogja, sebuah art fair kolaboratif yang melibatkan galeri regional, internasional, dan komunitas seni. Program ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan JNM sebagai pusat aktivitas seni dan budaya di Yogyakarta.

“Sinergi antara pameran, pasar seni, komunitas, dan ruang publik menjadi penting untuk membangun ekosistem seni yang berkelanjutan,” jelas Heri.

Komitmen terhadap seni yang inklusif juga kembali diwujudkan melalui program Love ARTJOG. Program ini bekerja sama dengan Tab Space dari Bandung untuk memberikan ruang eksplorasi bagi seniman dan desainer difabel. Selain itu, pelajar SD hingga SMA akan dilibatkan sebagai pendamping pengunjung difabel selama pameran berlangsung.

Sementara itu, program The Others Lab by TACO bersama Studio Banda Bali akan mengangkat isu lingkungan melalui pendekatan desain dan eksperimen material yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di bidang seni pertunjukan, performa•ARTJOG menghadirkan sejumlah kolaborasi internasional. Beberapa nama yang dijadwalkan tampil antara lain Violet Indigo dan Watchdog dari Prancis, Monica Lim dari Australia, Australian Art Orchestra, hingga proyek seni multidisiplin “Daughters of the Sea” dan “Ma Bua”.

“ARTJOG selalu berupaya menjadi ruang pertemuan berbagai disiplin seni, gagasan, dan komunitas. Tahun ini kami ingin memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi jembatan dialog antar generasi sekaligus memperkuat jejaring budaya yang terus berkembang,” imbuh Heri.

Selama lebih dari dua bulan penyelenggaraan, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai program pendukung seperti Exhibition Tour, Meet the Artist, ARTCARE Indonesia, hingga proyek merchandise hasil kolaborasi dengan sejumlah seniman, desainer, dan brand kreatif nasional.

Melalui tema Ars Longa: Generatio, ARTJOG 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni rupa kontemporer, tetapi juga menjadi wadah pertemuan lintas generasi yang memperkuat keberlanjutan ekosistem seni dan budaya Indonesia.