jogjabanget.id

Budaya Jawa Masih Lestari di Suriname, tetapi Minat Generasi Muda Menurun

Pemda DIY siap mendukung pelestarian budaya Jawa di Suriname melalui materi kebudayaan untuk radio dan televisi, serta penjajakan kerja sama misi budaya dan Indo Fair. (dok. Pemda DIY)

Pemda DIY siap mendukung pelestarian budaya Jawa di Suriname melalui materi kebudayaan untuk radio dan televisi, serta penjajakan kerja sama misi budaya dan Indo Fair. (dok. Pemda DIY)

Author
Redaksi
20 Oktober 20263 menit baca

YOGYAKARTA, jogjabanget.id - Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) siap mendukung pelestarian budaya Jawa di Suriname melalui kolaborasi pengisian materi kebudayaan pada siaran radio dan televisi setempat.

Dukungan tersebut mengemuka dalam audiensi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Suriname, Agus Priono, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin (19/10/2026).

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan Sri Sultan telah memberikan arahan agar Pemda DIY mendukung upaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriname dalam menjaga keberlangsungan budaya Jawa.

“Tadi juga Bapak Gubernur minta support dari kita. Nanti kita akan siapkan bahan-bahannya melalui Bu Dian, Kepala Dinas Kebudayaan, untuk mengisi acara, baik itu di radio maupun di TV yang ada di sana,” tutur Ni Made usai pertemuan.

Menurut Ni Made, materi kebudayaan yang disiapkan nantinya dapat dikemas dalam beragam bentuk dan mengikuti perkembangan budaya. Dengan begitu, pengenalan budaya Yogyakarta kepada masyarakat Suriname diharapkan tetap menarik dan tidak monoton.

“Saya kira (kolaborasi/dukungan materi) dengan beraneka ragam ya, ini kan berkembang terus ya budaya itu dan tidak membosankan. Mungkin juga ini akan mempengaruhi minat masyarakat di Suriname untuk lebih mendalami budaya Jawa,” jelasnya.

Minat generasi muda menjadi perhatian

Duta Besar RI untuk Suriname, Agus Priono, menyampaikan bahwa adat dan budaya Jawa di Suriname hingga kini masih terjaga. Masyarakat keturunan Indonesia merupakan kelompok etnis terbesar ketiga di negara tersebut.

Dari total penduduk Suriname yang diperkirakan mencapai 630 ribu jiwa, sekitar 17 persen atau kurang lebih 80 ribu orang merupakan keturunan Indonesia. Mayoritas di antaranya berasal dari Jawa.

Meski tradisi Jawa masih lestari, Agus menyebut minat generasi muda untuk mengenal dan mendalami budaya leluhur menunjukkan kecenderungan menurun. Kondisi itu menjadi salah satu alasan KBRI Suriname menjajaki kerja sama dengan Pemda DIY.

Dubes Suriname di Kepatihan.jpg

“Jadi saya sudah sampaikan ke Pak Gubernur bahwa Alhamdulillah adat budaya Jawa itu masih lestari, masih bagus di Suriname. Namun ada tren kepeminatan untuk generasi muda itu semakin menurun. Sehingga tadi saya minta bantuan Pak Gubernur diskusi bagaimana supaya sama-sama kita mengupayakan budaya, tradisi Indonesia, utamanya Jawa itu tetap semakin lestari di Suriname,” ungkap Agus.

Jajaki dukungan misi kebudayaan dan Indo Fair

Selain kolaborasi melalui radio dan televisi, Agus juga menyampaikan harapan agar DIY mendukung pelaksanaan misi kebudayaan serta berpartisipasi dalam Indo Fair, agenda tahunan di Suriname.

Pada penyelenggaraan terakhir, Indo Fair tercatat dihadiri hingga 14 ribu masyarakat Suriname. Agenda tersebut dinilai menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat setempat.

KBRI Suriname juga berupaya mengemas promosi budaya dengan memanfaatkan potensi lokal. Salah satunya melalui musik pop Suriname yang dipadukan dengan nuansa Jawa agar lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.

“Kita gali dari lokal. Tapi nuansanya, semangatnya adalah promosi Indonesia, promosi Jawa di Suriname,” kata Agus.

Kolaborasi dengan Pemda DIY diharapkan dapat memperluas cara pengenalan budaya Jawa sekaligus memperkuat upaya pelestariannya di tengah masyarakat Suriname.